Dalam Alkitab sama sekali tidak pernah disinggung mengenai keberadaan
WARIA atau BANCI. Tuhan hanya menciptakan manusia, laki-laki dan
perempuan, sementara waria setengah laki-laki dan setengah perempuan.
Apa tanggapan anda?
Pertama kita hrus menempatkan WARIA dalam DIMENSI KASIH. Artinya, kalau
tanpa kasih pasti kita tidak akan pernah menerima mereka, karena mereka
berbeda dengan yang lain. Dengan kasih yang ada didalam diri kita, itu
merupakan satu kekuatan bagi kita untuk dapat menerima mereka
se-ba-gai-mana merek ada. Itu prinsip. Dengan sikap kasih tentu kita
tidak akan meng-hukum atau menghakimi mereka. Relitas yang terjadi orng
menghukum mereka semua dengan menjauhkan diri atau mengisolasikan mereka
dari pergaulan. Padahal kalau kita bertanya kepada mereka, mereka
sebenarnya tidak ingin hidup seperti itu. Bagaimana dengan masalah
penciptaan? Kalau bertitik tolk dari Kitab Kejadian 1:26-27, Allah
menciptakan mnusia segambar dengan-Nya. Segambar bukan dalam pengertian
biologis anatomis. Tetapi segambar dengan Allah punya pemahaman
filosofis teologis yaitu ketika manusia diciptakan dia dikondisikan
dalam eksistensi relasional secara vertikal dengan Allah, tetapi juga
dengan sesama (horisontal). Manusia itu akan menjadi sempurna jika ada
relasi vertikal dan horisontal ini. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa
Tuhan tetap sayang pada manusi, Allah mengasihi dan menyelamatkannya.
Kenapa? Karena manusia diciptakan segambar dengan Allah.
Manusia diciptkan tidak hanya laki-laki saja tetapi juga perempuan. Lalu
bagaimana dengan merek yang lahir dalam konsisi tidak normal (waria)?
Manusia jelas diciptakan Allah, maka jawaban logisnya Allah salah dan
tidak adil dong... menciptakan waria. Tapi dengan mengatakan Allah tidak
adil akan menjawab persoalan? Kita tidak akan pernah bisa menjawab soal
itu. Kita harus bisa terima bahwa merek juga ciptaan Tuhan., karena
mereka juga manusia seperti kita. Sebenarnya ini adalah tantangan bagi
mereka yang normal menyikapi keberadan mereka. Tinggal bagaimana sikap
kita terhadap mereka. Kita harus menerima mereka apa adanya sama seperti
yang lain. Kalau kita bilang itu setan yang menciptakan, berarti kita
sudah menghukum mereka. Kalau itu terjadi, beban psikologis mereka akan
bertambah berat, sementara masyarakat sudah menyudutkannnya. Ada
tidak Pendet yang dekat dengan merek? Tidak ada. Solnya malu. Ada tidak
Hamba Tuhan yang bergaul dengan mereka? Tidak ada. Kenpa? Alasannya
tidak enak, risi dan sebagainya. Terus terang keberadan mereka lewat
dari perhatian kita sebagai mereka yang mengaku HAMBA TUHAN, sebagai
orang-orang yang penuh kasih.
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.