Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25: 40).
Di mata Tuhan anda adalah pribadi yang berharga, mulia dan dikasihi oleh-Nya. Sebagai buktinya Ia telah menyerahkan Yesus, anak-Nya yang Tunggal mati binasa di kayu salib, supaya anda yang seharusnya binasa diselamatkan. Itulah kasih Allah. Itulah hati yang melayani. Allah mengasihi, maka Ia memberi. Seberapa banyak dari kita yang selalu angkat tangan dengan yakin ketika kita ditanya apakah kita mengasihi Allah? Saya percaya banyak! Akan tetapi Tuhan memberi kita sebuah ujian hati: Mengasihi Tuhan = memberi bagi sesama yang membutuhkan. Memberi kasih, perhatian, waktu, materi, doa, semangat dan apapun yang bisa anda lakukan bagi orang lain. Jadi sungguhkah kita sudah mengasihi Tuhan? Kebanyakan orang maunya diberi, bukan memberi. Mengasihi berarti memberi. Melayani berarti memberi, bukan diberi.
Toyohiko Kagawa, nama ini mungkin tidak sepopuler Billy Graham atau Martin Luther, tetapi ia adalah “nabi” dari Jepang. Seluruh hidupnya merupakan kotbah yang hidup tanpa dipoles dengan segala macam ilustrasi dan humor. Ia lahir dalam keluarga kaya di Kobe, 10 Juli 1888. Ia terlahir akibat keberandalan ayahnya dengan seorang geisha. Sekalipun moral orang tuanya bobrok, Tuhan mempunyai rencana yang agung bagi Toyohiko Kagawa. Pada usia 4 tahun, kedua orang tuanya yang hidup kumpul kebo meninggal. Kemudian, dia bersama kakaknya dikirim ke Awa, desa leluhur ayahnya. Di sana , ia tidak disambut baik oleh ibu dan nenek tirinya. Meski masih remaja, pengalaman penderitaannya di Awa dan lingkungan memberinya kecerdasan yang jauh melebihi usianya. Karena tidak banyak orang yang suka kepadanya, ia mulai terkucil dan merasa kesepian. Saat itulah beberapa penginjil muncul. Para penginjil ini mengangkat Kagawa dari lumpur kesepian. Sentuhan kasih itu membuat Kagawa meminta kepada para penginjil itu, “Jadikan aku seperti Kristus!” Ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Pada tahun 1905 ia masuk Presbyterian Junior College di Tokyo. Doanya menjadi Kristus menjadi kenyataan. Semasa kuliah tak jarang temannya terkesima ketika melihat dia menampung seorang pengemis dari pinggir jalan, memberi tunjangan kepada yang membutuhkan, memberikan sepatu dan pakaian yang melekat di badannya kepada orang miskin. Pada tahun keduanya di kuliah, ia terserang TBC. Ia terpaksa berhenti kuliah dan mengasingkan diri ke tepi pantai. Namun demikian, semangatnya untuk memberitakan Injil tidak surut.Di gubuk kotor tepi pantai ia mengabarkan Injil kepada para nelayan. Di tempat inilah dia mengalami mujizat. Ia sembuah dari sakit dan melanjutkan studi di Kobe Prebyterian Seminary, jepang dan The Princeton Seminary, AS sampai memperoleh gelar Master of Divinity (M.Div.). Pada tahun 1909 ia memutuskan tinggal di daerah miskin dan kumuh di Shinkawa. Bermodal iman seteguh karang, ia menampung orang-orang yang menderita dan membiayai keperluan hidup mereka dengan beasiswa yang diterimanya. Banyak kegiatan sosial dilakukannya. Puncak kegiatan Kagawa adalah ketika ia memulai sebuah gerakan bernama “Gerakan Kerajaan Allah”. Selama gerakan itu, tercatat 25.000 orang bertobat. Dari sekolah penginjil awam yang didirikannya, berhasil mencetak 5.000 sukarelawan yang siap terjun di 12.000 desa. Atas jasa-jasanya di bidang sosial kemasyarakatan, Pemerintah Jepang menganugerahinya penghargaan. Tepat tanggal 23 April 1960 , ia meninggal di rumahnya dan dimakamkan di Tokyo. Pemakamannya dihadiri ribuan orang dari berbagai kalangan. Hidup dan karya sang “nabi” dipersembahkan di Mezbah Tuhan dalam pelayanan kepada kaum miskin.
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.