Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. (Mazmur 16:11)
Banyak orang gagal dalam pencariannya, karena mereka tidak mengikuti tuntunAN... Kalau kita tidak mengikuti petunjuk Tuhan, kita hanya mengandalkan kekuatan dan kepandaian kita sendiri. Masalahnya kekuatan kita terbatas, kepandaian kita juga terbatas. Seringkali jalan yang kita piker lurus, ternyata ujungnya maut; keputusan yang kita pikir menguntungkan, ternyata merugikan; jalan yang kita pikir benar, ternyata salah. Bahkan ada waktu-waktu tertentu kita harus menghadapi masalah yang begitu besar (sakit penyakit yang begitu mematikan, kesalahpahaman yang begitu rumit, kebutuhan keuangan yang begitu banyak) yang tidak bisa kita selesaikan dengan kekuatan kita sendiri yang terbatas. Kesimpulannya: Tanpa TUNTUNANTuhan, kita akan gagal, NAMUN SAAT MENGIKUT TUNTUNAN TUHAN KITA DAPAT MERASAKAN KENIKMATAN.
Ada sebuah keluarga di Jepang melahirkan seorang anak laki-laki yang lumpuh sejak lahir. Ibunya hancur hatinya dan stres melihat anaknya yang lahir cacat tersebut. Kedua kaki anak kesayangannya ini tak berfungsi karena serangan polio sehingga menyebabkan dia tidak bisa berjalan. Tangan kanannya hanya bisa bergerak sedikit dan tangan kirinya tidak bisa bergerak juga. Anak ini cacat dan tak bisa memenuhi harapan kedua orang tuanya, sampai akhirnya sang ibu meninggal dunia. Penderitaan anak ini tidak hanya sampai disitu. Ayahnya yang masih hidup selalu marah dan memaki-maki dia sebagai anak yang tidak berguna dan hanya menyusahkan saja. Sampai suatu hari, anak tersebut diajak temannya pergi ke gereja, dan disitulah dia menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya yang menerima dirinya apa adanya. Suatu hari ia mendapatkan Firman Tuhan yang membawa jalan hidupnya lebih jauh lagi ke dalam dimensi pelayanan. Ini dimulai dari satu ayat yang selalu bergema di dalam hatinya, “Muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” Pada waktu Tuhan berbicara kepadanya, ia menangis sesenggukan. Matshuhashi menangis bukan karena kemalangannya, tapi ia menangis karena kerinduanya untuk mendekat dan menyenangkan hati Tuhan, sambil berkata, “Bagaimana dengan keadaan tubuh saya yang seperti ini bisa memuliakan Engkau, Tuhan?” Jangan lupa saudara, ia bukan hanya cacat secara fisik, tapi keadaannya juga tidak memungkinkan dia melayani Tuhan karena ia miskin. Akan tetapi, perintah Tuhan kepadanya sangat jelas agar ia memuliakan Allah dengan tubuhnya. Jadi, apa yang dapat diperbuatnya? Sama seperti orang-orang percaya yang dalam keadaan terjepit, ia pun berdoa demikian, “Tuhan, kalau engkau memang menghendaki agar aku memuliakanMU dengan tubuhku, aku pun mau juga. Tapi tolonglah aku, aku minta penolong.” Singkat cerita, tak lama kemudian, ada seorang puteri yang bertobat disana. Pemudi ini dulunya penganut shinto yang tekun. Setelah ia menemukan Allah yang hidup, ia semakin tekun beribadah kepada Tuhan. Suatu hari mereka bertemu di gereja. Pemudi ini mendengar cerita tentang Matsuhashi, ia merasakan kerinduan hatinya dan juga melihat keadaan Matsuhashi. Pemudi ini jatuh iba, dan ia pun diam-diam berdoa bagi pemuda itu, “Tuhan, kasihan sekali pemuda itu. Ia cinta engkau, dan aku tahu bagaimana orang yang sungguh-sungguh dengan Engkau. Tuhan, berikanlah ia seorang penolong seperti yang dimintanya.” Bayangkanlah seandainya anda adalah pemudi yang berdoa itu, dan tiba-tiba setelah berdoa demikian, Roh kudus berkata dalam hati anda, ”tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya. Kamulah yang akan menjadi penolong baginya!”bagaimana reaksi anda? Mungkin data-data berikut ini dapat membantu saudara didalam mengambil keputusan. Pemudi itu sangat cantik jelita dan banyak jemaat yang jatuh hati kepadanya, ia juga seorang yang berpendidikan tinggi menurut standar Jepang yang penuh dengan persaingan sengit dibidang pendidikan. Data penting lainnya bahwa ia adalah puteri berdarah ningrat, dari keturunan seorang bangsawan, bahkan bahasanya pun adalah bahasa Jepang yang dipakai di lingkungan istana. Jika anda adalah seorang yang memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan, maka anda akan bereaksi sama seperti pemudi yang ingin lebih sungguh-sungguh menyembah Allah yang hidup setelah ia sekian lama ia sempat menyembah allah yang mati. Pemudi yang bergaul erat dengan Allah itu tahu bahwa Allahlah yang berbicara kapadanya. Maka ia datang kepada Matsuhashi yang terperangah saat mendengar ia dengan tulus berkata, “Matsuhashi, aku diperintah Tuhan untuk menjadi penolongmu.” Ternyata orang yang menderita polio juga bisa mendapatkan tulang rusuk yang unggul. Seluruh gereja itu menjadi begitu gempar. Orang tua si pemudi serta merta tidak setuju dan sangat terkejut mendengar penuturan pemudi tersebut. Singkat cerita, mereka berdua pun menikah ditengah berbagai pandangan mata:ada yang bahagia, ada yang terharu, ada yang masih tak percaya, dan ada pula yang iri hati (kepada Matsuhashi tentunya). Setelah menikah, mereka pun berusaha masuk sekolah Alkitab. Tetapi tidak ada satupun yang mau menerima calon penginjil yang untuk menggerakkan tangannya saja harus dibantu oleh isterinya. Namun, panggilan Tuhan tidak pernah keliru. Puji Tuhan, ada satu sekolah Alkitab yang terkenal keras peraturannya mau menerima mereka. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah Alkitab tersebut, suami isteri ini pun mulai melayani Tuhan sebagai penginjil. Di bagian utara Jepang, di pulau Hokaido, didaerah Sapporo, mereka mendirikan gereja yang paling besar di daerah itu. Dibandingkan dengan seluruh pendeta Jepang, maka pendeta inilah yang paling banyak berkhotbah di luar negeri. Jadi, Tuhan bisa menunjukkan bahwa pelayanan dari seorang yang lemah secara fisik dapat melebihi orang yang kuat fisiknya selama ia dekat dengan Tuhan, yang membuat rohnya semakin kuat. Bukan itu saja catatan prestasinya. Satu-satunya penganut agama diluar kepercayaan shinto yang pernah bertemu dengan kaisar, hanyalah pendeta Matsuhashi. Ini adalah contoh bagaimana Tuhan mengangkat seorang yang sungguh-sungguh mendekat kepadaNya, yang manusia rohaninya unggul walaupun dengan berbagai keterbatasan fisik. Kedua anak mereka pun menjadi hamba Tuhan, dan mereka menjadi penginjil bahkan sampai ke Hawai. Setiap kali Matsuhashi akan berkotbah, isteri Matsuhashi mendatangi suaminya sementara panitia menyediakan kursi didepan mimbar. Isteri matsuhashi berlutut dan ia pun mengendong suaminya! Setelah suaminya di dudukkan di kursi yang tersedia dan bersiap untuk khotbah, isterinya tiba-tiba bersaksi sebentar. “Suami saya adalah suami yang paling murni di dunia, sebab ia tidak pernah kelayapan.” Sambil menengok ke arah suaminya dengan tatapan mesra dan penuh kasih sayang. Meskipun ia mengatakannya dengan nada bercanda, pada waktu ia menyampaikan kesaksianya yang sangat singkat tersebut, jemaat menitikkan air mata karena terharu. Matsuhashi menanggapi kesaksian isterinya dan mengatakan dengan lembutnya serta penuh kesungguhan, “Saya punya satu permintaan kepada Tuhan, nanti di surga, hanya ada satu hal yang saya minta: saya mau menggendong isteri saya masuk ke surga.”
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.