Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan

 Al-Quran memuat, “Dia-lah Allah . . . Yang Maha Sejahtera . . .” (Qs 59:23). Ayat ini menjadi dasar umat Islam untuk nama Allah As-Salam.

Pertanyaan Soal As-Salam

Perlu ditanyakan, bila Allah meninggalkan umat-Nya ragu-ragu mengenai kepastian masuk sorga, apakah itu tindakan Allah As-Salam, “Yang Maha Sejahtera”?

Nabi Yesaya dalam Kitab Allah memberi gelar “Raja Damai” bagi Isa Al-Masih (Kitab Nabi Yesaya 9:6). Isa Al-Masih berjanji pada murid-murid-Nya, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu . . . Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:27).

Relasi As-Salam dan Raja Damai

Sabda Sang Juruselamat, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka [pengikut-Nya] dan . . . pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 10:28).

Kristen, Mukmin, itulah bukti bahwa Isa Al-Masih adalah “Raja Damai.” Pengikut-Nya pasti merasa damai sejahtera karena pasti masuk sorga saat meninggalkan dunia ini!


MAKAN SIANG BERSAMA TUHAN


Suatu saat seorang anak laki-laki kecil ingin sekali bertemu dengan Tuhan. Dia tahu itu adalah perjalanan yang panjang untuk bisa pergi ke rumah Tuhan, jadi dia berkemas memasukkan ke dalam tasnya kue dan enam kaleng minuman ringan, kemudian dia memulai perjalanannya.

Ketika dia sudah berjalan sekitar tiga blok, dia bertemu dengan seorang wanita tua. Wanita tua itu duduk di taman sambil menatap beberapa merpati di sana. Anak laki-laki kemudian duduk disampingnya dan membuka tasnya. Dia hendak mengambil minuman ringan untuk minum, ketika melirik ke arah wanita itu, dia melihat wanita itu terlihat lapar jadi anak itu menawarkan kuenya. 



Wanita itu sangat berterima kasih dan tersenyum padanya. Senyumannya sangat cantik sehingga anak itu ingin melihatnya lagi, jadi ia menawarkan minuman ringan kepadanya. Sekali lagi ia tersenyum dan anak itu sangat senang. Mereka duduk di taman itu sepanjang siang, makan dan tersenyum, tapi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Saat hari mulai gelap, anak itu menyadari betapa lelah dirinya dan ia bangkit untuk pulang, tapi baru beberapa langkah ia berbalik dan lari kembali kepada wanita tua itu serta memeluknya. Wanita itu memberinya sebuah senyum terbesar yang pernah ada. Ketika anak laki-laki itu sampai di rumah, ibunya terkejut dengan sukacita yang terpancar dari wajah anak itu.

Ibunya bertanya, "Apa yang kamu lakukan hari ini sehingga membuat kamu begitu senang?"

Dia menjawab, "Saya makan siang dengan Tuhan." Dan sebelum ibunya bertanya lagi, dia menambahkan, "Ibu tahun? Dia punya senyuman terindah dari semua yang pernah saya lihat."

Sementara itu, wanita tua itu juga terkena dampak sukacita dari anak tersebut, ketika dia pulang ke rumahnya anaknya terkejut melihat kedamaian dan sukacita yang terpancar diwajahnya.

"Ibu,  apa yang kamu lakukan hari ini yang membuatmu begitu bahagia?"

Jawabnya, "Saya makan kue di taman bersama Tuhan." Tetapi sebelum anaknya merespon atas pernyataannya tersebut ia menambahkan, "Kamu tahu, dia jauh lebih muda dari yang saya harapkan."

Seringkali kita telalu menganggap remeh kuasa sentuhan, senyuman, ucapan manis, kesediaan untuk mendengar, pujian yang tulus atau tindakan-tindakan kecil yang penuh perhatian yang berpotensi untuk mengubah kehidupan orang lain. Setiap orang yang masuk dalam kehidupan kita memiliki alasan khusus, dan seringkali Tuhan yang mengirimkan mereka untuk Anda sentuh dengan kasih-Nya. Ijinkan diri Anda menjadi saluran kasih Tuhan itu. (fw.mnrdy.mrtnz)

* * * * *

Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! (Filipi 4:5)
__._,_.___

PEREMPUAN LAIN


Setelah 21 tahun menikah, saya tiba-tiba menemukan cara baru dalam menyalakan api cinta kami. Demikian tulis seorang pria yang ingin berbagi pengalaman. 

Beberapa waktu lalu istri saya mengusulkan agar saya berkencan dengan seorang perempuan lain, besok malam. 

 

"Kamu akan mencintainya," kata istri. 

"Apa-apaan sih," protes saya. "Mengapa kamu tidak ikut?" 

"Itu acara kamu berdua dia," jawab istri. 

Perempuan yang dimaksudnya adalah ibu saya yang telah menjanda selama 19 tahun belakangan ini. Saya jarang menemuinya karena kesibukan kerja dan mengurus tiga anak kami. Malam itu saya telepon ibu, mengajaknya makan malam dan nonton film. Berdua saja. 

"Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon. Ibu saya adalah tipe yang selalu curiga kalau menerima telepon di tengah malam atau undangan yang datangnya tiba-tiba. Bagi dia, itu pasti akan membawa berita buruk. 

"Saya pikir, pasti akan menyenangkan kalau kita sekali-sekali ke luar berdua saja," jawab saya. 

"Ibu mau sekali," jawabnya setelah terdiam beberapa lama. Aha, dia masih curiga. 

Besok malam, sepulang kantor saya ke rumah ibu.Dia terlihat agak senewen tapi berdandan resmi sekali. Ibu jelas telah menata rambutnya di salon, dan dia memakai gaunnya yang terbaik. Gaun yang dipakai pada pesta ulang tahun perkawinan yang terakhir ketika ayah masih hidup. 

Ibu menyambut saya dengan senyum lebar. "Saya bilang ke kawan-kawan tentang rencana kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu sekarang," kata ibu seraya masuk mobil. 

"Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya." Kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasananya elegan, menyenangkan. Ibu menggandeng lengan saya ketika memasuki ruangan, persis seperti First Lady. Jalannya anggun. Saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya walau dengan kacamata tebal. 

Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti sejenak menengok ke ibu. Dia sedang memandangi saya dengan senyum kasih. "Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika kau masih kecil," katanya. "Sekarang ibu santai saja. Giliran saya yang melayani ibu," jawab saya. 

Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari. Tidak ada topik yang istimewa tapi obrolan mengalir saja sampai-sampai kami terlambat untuk menonton film. 

Mengantarnya pulang, di muka pintu ibu berkata, "Ibu mau pergi lagi dengan kamu, tapi lain kali ibu yang bayar." Saya setuju. "Bagaimana kencanmu?" tanya istri saya di rumah. "Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga. Tadinya tidak tahu mau ngomong apa." 

Beberapa hari kemudian, ibu meninggal karena serangan jantung. Begitu tiba-tiba kejadiannya, saya tidak sempat berbuat apa-apa untuk menolongnya. 

Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari restoran tempat ibu dan saya makan malam. Surat itu dilampiri kopi tanda lunas. Ada selembar kertas diselipkan di situ, tertuliskan: "Ibu sudah bayar makan malam kita karena rasanya tak mungkin kita makan bersama lagi. Walaupun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua orang, barangkali untuk kau dan istrimu. Anakku, besar sekali arti undanganmu malam itu." 

Pada detik itulah saya mengerti apa pentingnya arti bahwa kita mengatakan kepada orang-orang yang kita sayangi mengenai perasaan kita itu. Tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup daripada Tuhan dan keluarga. Berikan waktu Anda untuk mereka, jangan sampai terlambat untuk mengatakan'nanti'. 

.....kangen sama ibu tercinta ... 

(fr.julia.w.) 

* * * * * 

Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1 Korintus 13:7)

BERKAT YANG TERSEMBUNYI


Bertahun-tahun yang lalu, pada awal abad ke-20 saat saya masih kecil, ayah saya adalah seorang pendeta di sebuah gereja Baptis kecil di Eatonton, Georgia Tengah, tempat kelahiran Joel Chandler Harris -- pencipta tokoh "Uncle Remus" yang legendaris.



Kami menyukai kota itu dan orang-orang yang tinggal di situ, tetapi penghasilan ayah yang hanya 100 dolar sebulan diatur supaya mencukupi kebutuhan keluarga kami. Kami akan mengalami kesukaran seandainya saudara ayah, Robert, tidak mengirim cek sejumlah 500 dolar setiap awal bulan Desember. Dan sebenarnya, sepanjang tahun kami mengharap-harapkan masukan tambahan itu.

Kami masing-masing mendapat sedikit bagian dari kiriman itu pada hari Natal. Dan, selama berminggu-minggu sebelumnya, kami telah merencanakan apa yang paling ingin kami beli dari pemberian itu.

Hari Natal saya yang ketujuh adalah Natal yang paling berkesan. Surat dari Paman Robert datang tepat pada waktunya. Seperti biasa, ibu dan kami, anak-anak, mengelilingi kursi ayah di dapur saat ia membuka sampul surat. Tetapi, kali ini tidak seperti biasanya. Ayah menarik napasnya dengan cepat, lalu membaca dengan suara yang bergetar, "George yang baik, hubungan kita sepertinya jauh sekali kalau saya hanya mengirimkan selembar cek pada hari Natal. Karena itu, tahun ini saya mengirimkan hadiah-hadiah yang saya harap dapat kalian senangi. Teriring kasih, Robert."

Ayah menyembunyikan kekecewaan yang dirasakannya. Ibu tidak dapat menahan tangisnya. Ayah memunyai iman seperti seorang anak kepada Tuhan untuk menyediakan kebutuhannya; dan sering kali Tuhan memakai ibu untuk membuat ia mengatur setiap keperluan dengan cermat, dan itu membantu menjawab doa-doa ayah. Tetapi sekarang, ibu sendiri kelihatannya putus asa.

Kiriman hadiah dari Paman Robert datang. Kami membiarkannya agar tetap tertutup, dan membawanya ke ruang tamu. Berhari-hari kami membicarakan kira-kira hadiah apa yang dikirim. Tepat pada hari Natal, pagi-pagi kami membuka kotak itu dengan harapan yang meluap-luap.

Dan, semua harapan kami hancur luluh! Hadiah-hadiah itu mahal-mahal dan bagus-bagus, tetapi semuanya tidak mengenai sasaran. Sifat saya agak tomboi dan saya sangat menginginkan celana pendek yang diikat dengan lutut -- model sportif yang diperkenalkan kaum feminis. Tetapi, hadiah untuk saya adalah sebuah boneka. Hadiah yang kewanita-wanitaan. Adik saya yang gemuk pendek, Rob, juara kelereng di kelas lima, mendapat sebuah teleskop.

Ayah sangat menginginkan sepatu bot untuk dipakai menghadiri upacara pembaptisan; hadiah yang diperoleh adalah jaket santai. Dan, itu menyedihkan karena selain mempunyai sedikit uang, ayah hanya memunyai sedikit waktu luang.

Hadiah untuk ibu juga cukup mengejutkan. Ibu menginginkan dinamo listrik untuk mesin jahitnya, supaya ia tidak lagi menggerakkannya dengan kakinya. Hadiah untuk ibu adalah tas tangan yang besar, mengilat, dan sangat bergaya, terbuat dari kulit buaya. Bahkan saat itu juga, saya dapat membayangkan ibu akan kelihatan aneh bila memakai tas seperti yang dibawa istri seorang pejabat bank ke gereja.

Setelah hadiah terakhir dibuka, kami duduk memangku hadiah masing-masing dengan kertas pembungkus yang berwarna-warni di sekeliling kami. Kami terlalu terkejut sampai tidak dapat berkata apa-apa. Akhirnya, ayah berdiri.

"Fanie, anak-anak semua," katanya lembut, "Ayah tahu kita semua merasa Paman Robert tidak tahu apa yang kita inginkan dan harapkan pada hari Natal ini. Dan, bahwa ia telah mengecewakan kita. Tetapi, menurut ayah kitalah yang tidak mengerti. Kita semua mengenal adik laki-laki Ayah belum menikah. Ia tidak mendapat berkat seperti kita, yang saling memiliki pada hari Natal setiap tahun. Ayah yakin ia pasti merasa kesepian pada saat-saat seperti itu. Tetapi, ia pergi berbelanja untuk kita tahun ini, berusaha membayangkan apa yang diinginkannya pada hari Natal, seandainya ia berusia sepuluh tahun seperti Grace atau seorang pendeta setengah umur seperti Ayah. Ia telah memberi dengan tulus."

"Apabila kita merasa hadiah-hadiah ini berbeda dengan apa yang kita inginkan, kita juga dapat melihat bahwa hadiah-hadiah ini membuka sesuatu yang baru." Lalu, ayah merangkap sweter yang sudah pudar yang dipakainya dengan jaket dari brokat yang dicobanya. "Jaket santai ini akan mengingatkan ayah, supaya lebih banyak meluangkan waktu dari kesibukan ayah."

Ayah mengemukakan perubahan positif dari hadiah-hadiah itu satu demi satu kepada kami. "Kami harap boneka itu membuat Mildred lebih tertarik pada urusan rumah tangga, yang akan diperlukannya bila masa memanjat pohon sudah lewat. Teleskop Rob dapat mengangkat matanya dari pasir di tanah untuk sekali-kali melihat bintang."

Dan, sambil menoleh ke arah ibu, ayah berkata, "Fanie sayang, saya yakin kau akan melihat tas yang sangat bagus itu memberi sentuhan yang lain pada lemari pakaian yang sudah cukup suram."

Kami mulai melihat hadiah masing-masing dan pemberinya dengan sudut pandang yang baru. Aroma kasih memenuhi ruangan itu, kehadirannya hampir dapat dilihat.

Ibu mulai melihat-lihat tas kulit buaya itu dan menggambarkan keunikannya. "Ada lapisan kulit hijau yang halus dan sebuah sikat kecil berwarna kekuning-kuningan. Bahkan, ada kantong rahasia yang berkancing!" Ibu memasukkan jarinya ke dalam kantong itu dan mengeluarkan secarik kertas. Kertas berwarna hijau yang terlipat itu mengeluarkan bunyi gesekan kertas. Ternyata, kertas itu cek bernilai lima ratus dolar!

Lalu terdengar suara ayah dengan irama yang penuh dan tegas, seakan-akan ia benar-benar mengalami keajaiban yang diharap-harapkannya. "Terpujilah Tuhan, sumber segala berkat!" Dan, kami semua bersyukur memuji Dia. Itulah Natal yang terbaik.

(Diambil dan disunting dari:/Judul asli buku: The New Guideposts Christmas Treasury/Judul buku terjemahan: Kisah Nyata Seputar Natal/Penulis: Mildred Morris/Penerjemah: Christine Sujana/Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1998/Halaman: 195-197/i-kan-kisah)

* * * * *

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Matius 7:11) 
__._,_.___

KESAKSIAN RAHEL NAPSI (1)
KISAH PERTOBATAN


Tahun 1987, saat aku berusia 16 tahun, itulah saatnya pertama kali aku mengenal cinta dan merasakan apa yang dikatakan orang bahwa ‘cinta itu buta’.  Aku mencintai seorang pria yang sudah beristri dan menjalin hubungan dengan pria ini sampai 8 tahun lamanya.  Istri kekasihku ini tahu bahwa suaminya berpacaran denganku, tetapi anehnya sang istri ini tidak pernah berlaku kasar, bersikap memusuhi atau menunjukkan cemburunya kepadaku, melainkan dia bersikap sangat baik, lembut dan sopan kepadaku, padahal sudah jelas sekali bahwa dia mengetahui hubunganku dengan suaminya dan bahwa aku ingin sekali merebut suaminya dari sisi sang istri.  Malahan, setiap kali aku melihat kekasihku bersama dengan istrinya, aku merasa sangat cemburu dan marah, tetapi semua perasaan itu hanya bisa kupendam di dalam hati.  Akhirnya, karena memendam semua kecemburuan dan kemarahan ini, aku menjadi sering sakit-sakitan, uang hasil kerjaku habis untuk berobat.   

 

Sesungguhnya aku ingin sekali lepas dari kekasihku ini, sudah kucoba berkali-kali untuk melepaskan diri darinya dengan cara menghidar dari pertemuan dengannya dan memperbanyak kegiatan rohani ‘ala kepercayaan lama’ku, namun tidak berhasil. Malahan semakin aku berusaha menghindar, rasa cinta dan kangen itu semakin besar.  Ibaratnya seperti terjatuh masuk ke dalam kubangan lumpur hidup, semakin aku bergerak, semakin dalam aku terpelosok ke dalam lumpur itu, demikian juga akhirnya aku makin tenggelam dalam perasaan tidak menentu ini. Saat ini aku mengerti bahwa itulah kuasa dosa, sekali kita terpelosok di dalamnya, dosa itu akan menarik kita jatuh semakin dalam.  Itulah yang kualami. Akhirnya aku frustasi, merasa putus asa, merasa hidupku tidak memiliki arti lagi, apalagi sewaktu rasa cemburu berkobar di hatiku aku merasa ingin mati saja, aku terpuruk dalam rasa depresi yang mendalam dan akhirnya mulai menyadari bahwa agamaku tidak bisa menolongku, aku butuh pertolongan dari kuasa lain. 

Hingga pada suatu saat, bersama anak majikan yang kurawat aku pergi ke gereja dan aku mulai mendengar nama Yesus, khususnya melalui satu pujian dari Pdt. Ir. Niko waktu itu, “Sudahkah kau miliki damai di hatimu, sudahkah kau miliki sukacita di hidupmu.  Hanya Yesus yang sanggup memberikan semua itu, jadikanlah Dia raja di hidupmu.”   Lagu ini terus terngiang-ngiang dalam pikiranku, sampai-sampai aku menantang, “Jika benar Yesus Tuhannya orang Kristen itu hidup dan berkuasa, bawa aku keluar dari rasa cinta sama suami orang ini.  Maka aku akan mengikutiNya dan percaya kepadaNya.” 

Pada akhir tahun 1994, aku mulai merasa ada sesuatu yang berubah dalam hatiku.  Aku merasa sangat berdosa, kotor dan tidak layak.  Aku sering menangis, kesal dengan diri sendiri tapi tidak tahu harus berbuat apa.  Selama 1 bulan itu, setiap kali aku tidur (siang maupun malam) aku selalu bermimpi ada banyak orang jahat yang mau membunuhku.  Aku dikejar-kejar orang berbaju hitam lalu berlari sampai ke hutan dan dalam mimpi itu selalu ada suara yang berbisik di telingaku supaya aku memperkatakan, “Dalam Nama Yesus, musuh dikalahkan.”  Setelah aku berkata demikian, orang-orang yang mengejarku itu akhirnya lenyap.  Aku terbangun dari tidur dengan hati yang berkemenangan namun dengan tanda tanya di pikiranku mengenai siapa itu Yesus, karena yang kukenal dulu Isa Al Masih adalah seorang nabi, itu saja. 

Sejak sering bermimpi seperti itu, aku mengambil keputusan meninggalkan kota Jakarta (tempatku bekerja) untuk pulang kampung dan sungguh-sungguh mau meninggalkan kekasihku.  Sebelum aku meninggalkan Jakarta, ada seorang pria yang tidak kukenal menelponku ke tempat kerja dan menuntunku untuk berdoa menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadiku.  Sejak saat itulah aku menerima Tuhan Yesus melalui orang yang diutus oleh Tuhan sendiri mencariku melalui telpon itu.  Nama Yesus berkuasa membawaku dalam pertobatan dan kelepasan. Serta kasih yang tulus dari istri mantan kekasihku membantu aku keluar dari dosa perselingkuhan. 

Terima kasih kepada Tuhan Yesus yang telah mengijinkan pengalaman berharga ini terjadi dalam hidupku, yang membawa aku mengenal dan menerima DIA yang sanggup memberikanku kasih yang sempurna.  Segala puji, syukur dan hormat hanya bagi nama Tuhan Yesus yang berkuasa menolong siapa saja yang mau menerimaNya. 

Tuhan Yesus memberkati. 

Note :  Saat ini Sdri. Rahel Napsi melayani di GBI Hong Kong sebagai Koordinator Ibadah di Cabang Mongkok, dimana yang bersangkutan juga dipakai Tuhan melayani  sebagai pengkotbah dan guru serta telah ditahbiskan sebagai Pejabat GBI, yaitu Pdp. (Pendeta Pembantu) pada th. 2008. 

WANITA SELINGKUH SELAMA 16 TAHUN DENGAN SUAMI ORANG

  
Bermula dari telephone salah sambung, Lina berkenalan dengan seorang pria. Selama enam bulan, Lina berteman dengan pria tersebut hanya melalui telephone saja, hingga suatu hari mereka akhirnya janji bertemu. 

http://www.jawaban.com/news/userfile/200511-ATS-1.jpg 

“Akhirnya kami janjian bertemu di sebuah tempat parkiran. Pada saat kami bertemu itu, saya baru tahu kalau dia itu sudah menikah.” 

Lina bertanya pada pria itu tentang status pernikahannya, dan pria itu menjawab dengan jujur bahwa ia pria beristri dan beranak dua. 

“Jadi saya merasa tidak dibohongi,” demikian tutur Lina, “Karena dari pertama saya sudah tahu status dia.” 
Lina sendiri saat itu sedang berpacaran dengan Harry, namun perhatian dan cinta dari pria beristri itu membuatnya buta. 

“Saat itu saya masih berhubungan dengan pacar saya, tapi hubungan saya dengan pacar saya tidak bisa membuat saya nyaman seperti saya dengan pria ini.” 

Hubungan Lina dengan pria beristri itu semakin dalam, bahkan hingga melakukan hal yang terlarang. Alasan suka sama suka telah membuatnya tidak bisa melihat apakah hal itu dosa atau tidak. 

Hingga suatu titik, Lina harus membuat keputusan penting tentang status hubungannya. Ia tahu pasti bahwa ia tidak mungkin mengharapkan pria tersebut menikahinya, jadi ia akhirnya memutuskan untuk menikahi Harry yang selama ini telah ia duakan. 

“Saya menikah dengan pacar saya demi status saya menikah. Tapi sementara itu hati saya hanya ke dia, karena bersama dia saya merasakan sesuatu yang special dalam hidup saya.” 
Harry, pria yang Lina nikahi ini adalah tipe pekerja keras dan serius, sebaliknya, pria selingkuhan Lina adalah pria yang romantis dan hangat. Hal ini membuatnya sulit melepaskan pria itu. Jadi, sekalipun ia telah menikah, ia masih tetap berselingkuh dengan pria tersebut. 

“Saya berusaha menyembunyikan perselingkuhan saya. Kalau tidur handphone saya taruh di bawah bantal,” ungkap Lina. 

Sekalipun Harry tidak tahu perselingkuhan istrinya, namun ia merasakan hubungannya dengan Lina terasa dingin. 

“Saya merasa istri saya tidak pernah melayani saya dengan baik,” ujar Harry. “Kami jarang melakukan hubungan suami istri yang dari hati ke hati.” 

Selama belasan tahun pernikahannya dengan Harry, Lina tetap menjaga rahasia perselingkuhannya dengan pria tersebut serapi mungkin. Hingga suatu hari, Lina merasakan sebuah firasat yang tidak enak tentang pria selingkuhannya itu. Berkali-kali ia menghubungi telephone genggam pria itu, namun tidak diangkat. 

“Saya akhirnya telephone ke kantornya, yang mengangkat itu sekretarisnya, saya bilang saya adiknya, sekretarisnya mengatakan dia sudah meninggal 10 menit lalu. Saya langsung shock, saya merasa dunia ini runtuh. Saya merasakan Tuhan itu jahat buat saya, merampas sesuatu yang berharga buat saya.” 

Setelah pria yang ia cintai itu meninggal dunia, Lina kehilangan tujuan hidup. 

“Tidak ada orang lagi yang mendengarkan saya, tidak ada orang lagi yang jadi teman curhat saya. Walaupun saya bersama suami dan anak-anak, saya merasa kosong. Saya sampai tidak bisa melakukan apapun dalam rumah tangga saya. Saya sudah tidak bisa hidup di dunia.” 

Keputusasaan itulah yang dirasakan Lina, ia sudah tidak punya semangat hidup. Hingga suatu hari ia menghadiri sebuah pertemuan. 

“Pembicara itu bilang: Tuhan berkata, barang siapa Kukasihi, ia akan ku tegur dan ku hajar. Oleh sebab itu bertobatlah. Saya merasa hal itu buat saya, pada saat lagu “Allah mengerti, Allah peduli” saya sudah tidak kuat lagi, saya pingsan di gereja itu.” 

Selesai ibadah, Lina dilayani oleh pendeta gereja tersebut. Saat itulah Lina mengungkap rahasia yang selama ini ia pendam. 

“Tuhan terus menegur saya, sampai saya bermimpi: saya berdiri di suatu lorong yang gelap dan bau. Saya mendengar teriakan-teriakan di dalam gang itu, juga suara pecutan-pecutan. Saya bilang, ‘Ih, saya ngga mau kesitu.’ Disitulah saya mendengar suatu suara yang mengatakan: Aku mengasihi kamu, sebab itu aku tidak mau kamu berada di dalam jalan itu.” 

Suatu hari seorang teman mengajak Lina dan Harry ke sebuah ret-reat. Harry menyetujui ajakan tersebut dan datang bersama Lina. 

“Pembicara menceritakan tentang perempuan yang berzinah,” tutur Harry. “Siapa diantara kamu yang tidak berdosa, lemparkan batu pertama pada perempuan itu. Disitu Tuhan bukakan hati saya.” 

“Dengar firman di ret-reat itu, membuat saya semakin yakin kalau ini waktu Tuhan untuk bertobat. Saya membaranikan diri untuk maju, dan saya mengatakan apa yang terjadi dengan saya.” 

Didepan mata suaminya, dan juga banyak orang yang hadir dalam acara tersebut, Lina mengakui perselingkuhan yang ia jalani selama 16 tahun. Harry seperti disambar petir di siang hari, shock, bingung, bahkan ia jadi seperti orang yang linglung. 

“Saya cukup shock saat itu, kok istri saya bisa begitu. Saya kemudian juga dipanggil ke depan, saya ngga bisa bicara apa-apa. Saya hanya diam.. Mungkin saat itu saya seperti orang tolol. Saya hanya diam, dan kami di doakan,” demikian pengakuan Harry. 

Amarah, kebencian dan rasa dikhianati, itulah yang dirasakan Harry. Ia merasa sangat bodoh bisa di bohongi oleh istrinya selama belasan tahun. Setiba di rumah, kemarahan Harry tak terbendung. 

“Malam itu kami bertengkar sampai pagi, suami saya tidak terima,” ungkap Lina. 

Berbagai pertanyaan Harry lontarkan, namun Lina hanya berdiam diri saja sambil menangis. Tekanan demi tekanan hari lakukan, Lina tetap tidak bergeming. Lina pun menghubungi pembimbing rohaninya, dan sebelum berangkat ke kantor pagi itu, mereka menyempatkan diri datang ke rumah Harry dan Lina. 

“Saya mau ceraikan istri saya, “ demikian ungkap Harry. “Saya sudah tidak sanggup lagi.” 

Pembimbing rohani mereka menenangkan Harry, dan memintanya untuk berpikir ulang tentang keputusannya tersebut. Harry pun masuk kembali ke kamar. 

“Di dalam kamar, firman Tuhan itu terus teringat. “Apakah kamu orang tidak berdosa?” Saya menangis, saya tanya Tuhan: Apa yang harus saya perbuat Tuhan, apa yang bisa saya lakukan dengan masalah seperti ini? Tapi firman Tuhan itu terus mengingatkan saya, saya orang berdosa. Bahwa kita harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh. Saya berkata, saya tidak sanggup Tuhan. Saya berdoa, menangis. Terus terang, sebelumnya saya tidak pernah berdoa. Tuhan lembutkan hati saya, saya ambil keputusan, saya minta ampun sama Tuhan.” 

Harry keluar dari kamar dan menghampiri istrinya, temannya langsung memegangnya takut Harry akan memukul Lina. Tapi yang terjadi sebaliknya. 

“Dia menghampiri saya dan meminta maaf,” ungkap Lina haru. 

Keduanya saling berpelukan dan saling meminta maaf. Apa yang mustahil, mengampuni orang yang telah mengkhianatinya selama belasan tahun, itu terjadi dalam satu hari, karena kasih Tuhan yang memampukan Harry. Sejak hari itu, pemulihan demi pemulihan terjadi dalam pernikahan Harry dan Lina. Bahkan hubungan keduanya semakin harmonis dan penuh kasih. 

“Karena kasih Tuhan yang begitu luar biasa, sehingga keluarga kami bisa utuh kembali. Rumah tangga kami harmonis kembali. Terima kasih Tuhan untuk semuanya ini, melalui masalah ini Tuhan bentuk kami,” demikian Harry menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 20 Mei 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel). 

* * * * * 

Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (1 Korintus 13:7)

MIMPIKU TENTANG NERAKA, 2 OKT 2012 – CHRIS FULLAGAR
by Mira Agustina on Wednesday, October 3, 2012 at 7:03am


Tadi malam saya mendapat mimpi yang mengejutkan tentang Neraka. Meskipun saya sering berbagi tentang Surga dan Neraka dan berbagi tentang kesaksian orang lain,  tetapi saya belum pernah melihat hal seperti ini dalam penglihatan atau mimpi sebelumnya. Saya hanya akan mencoba untuk berbagi sebaik yang saya bisa ingat - ambil atau tinggalkan itu, atau carilah Tuhan mengenai kebenaran tentang hal ini, jika anda memiliki masalah dengan itu.



Dalam mimpi ini, saya hanya sebagai Pengamat. Melihat beberapa hal yang mengejutkan dan tak terbayangkan di tempat yang terkutuk. Saya melihat jiwa yang hilang sedang berjalan, berusaha keras untuk dapat menemukan jalan keluar dari penyiksaan orang-orang jahat yang mana tampaknya mereka dapat berubah bentuk dan melakukan hal-hal supranatural. Jiwa yang terhilang akan bersembunyi di balik dinding tapi setan akan pergi melewati dinding itu dan siksaan akan mulai lagi. Saya melihat setan menggantung jiwa-jiwa yang terhilang pada dinding dengan balok baja yang sangat besar, balok itu sekitar 4 meter dan tebalnya 12 inci. Setan akan memukul dan membanting dia berulang-ulang dengan senjata yang menyebabkan rasa sakit yang mengerikan dan cedera, dan jeritan terdengar dari jiwa-jiwa yang terhilang.
 
Setiap kali ia membanting, setan akan mengingatkan dia dalam dosa yang pernah diperbuatnya. Setiap kali dia membanting saya melihat gambaran dosa mereka. Saya tidak ingat mereka semua, tapi mereka melanggar banyak hal seperti perintah-perintah Allah  seperti mencuri, berbohong, dosa seksual dan dosa lainnya. Ada dosa seksual begitu banyak seperti pornografi, melihat dengan nafsu, dll. Jiwa yang terhilang ini diingatkan dan disiksa berulang kali untuk dosa-dosa mereka di dalam Kekekalan - "Upah dosa adalah maut ..." (Roma 6:23).
 
Itu adalah pemandangan yang sangat mengejutkan dan begitu amat sangat menakutkan! Hal ini memberikan rasa takut yang sangat kuat dan mendalam akibat dosa, seperti misalnya ketika kita takut melihat ular yang mematikan di depan kita. Kita tidak akan memperlakukan ular dengan ringan, atau bermain dengan itu, atau bahkan memberikannya satu inci kesempatan, tapi kita menghindar betapapun harganya.
 
Untuk jiwa yang terhilang, itu seperti segala sesuatu telah dicatat : Terlihat dosa Percabulan, Perbuatan yang Tidak Taat, Segala Dosa Besar atau Kecil. Kita harus memahami bahwa dosa tanpa pertobatan bukanlah masalah ringan bagi Allah.Ada banyak dosa yang tercantum dalam Gal 5:19-21 dan Ef 5:3-7 dan banyak ayat yang ditulis untuk orang percaya, bahwa mereka yang melakukan dosa-dosa tersebut tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Jangan tertipu dengan perkataan kosong, kita harus mentaati Firman Allah untuk berusaha melawan dosa, untuk bertobat, untuk mengakui dan meninggalkan dosa, untuk menempatkan tangan kita untuk membajak dan tidak menoleh ke belakang, untuk menjadi Kudus sama seperti Dia yang adalah Kudus,
 
“Kejarlah Kekudusan tanpa yang tak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14).
 
Galatia 5:19-21  Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, Penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, Kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkankamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
 
Ya, ada banyak Kasih Karunia dalam darah Yesus yang memberikan Pengampunan dan Memampukan kita untuk mengatasi dosa. Puji Tuhan! Namun jika kita menggunakan Kasih Karunia sebagai alasan untuk terus menjalankan praktek dalam setiap perbuatan dosa atau mengabaikan perintah-perintah Allah dalam hidup kita, itu sama seperti menyalahgunakan Kasih Karunia.
 
(Roma 6:1-2) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?
 
Mengenai Percabulan, Yesus pernah begitu kuat memperingatkan murid-muridnya : “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.”  (Matius 5:27-3) 
 
Dapatkah orang percaya berakhir di neraka untuk Dosa Percabulan mereka (tanpa pertobatan)? Jawabannya telah jelas dalam ayat di atas. Nafsu seksual adalah masalah besar hari-hari ini. Hal itu dapat kita temukan di acara TV, internet, cara banyak orang yang berpakaian tidak sopan & menggoda seperti dunia, dan kadang-kadang saya terkejut melihat foto sexy mendekati telanjang yang ada di beberapa halaman facebook orang Kristen (baik laki-laki dan perempuan) baik dari gambar mereka sendiri atau gambar dari apa yang disebut Laki/Perempuan “HOT” - Jika ini termasuk anda, tolong Bertobatlah hari ini dan Hapus semua foto itu. Pastikan juga untuk berpakaian Sopan & Sederhana. Supaya tidak membuat orang lain tersandung dalam nafsu seksual yang merupakan masalah yang paling serius.
 
(Roma 6:12-13)  Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
 
Aku terbangun dengan kaget dari mimpi dan mempertimbangkan dengan Serius untuk Mempersiapkan Diri dalam KEKUDUSAN di waktu yang masih tersisa. Waspadalah terhadap setiap ajaran yang mengajarkan kasih karunia palsu atau kebohongan itu kepada anda yang mengatakan bahwa seorang Kristen tidak pernah bisa kehilangan keselamatan mereka (lihat Matius 7:21-23) (Sekali selamat tetap selamat, tidak ada dosa yang membuat orang Kristen masuk neraka - red.). Marilah kita mengejar Tuhan dalam pengabdian murni, dalam pertobatan dan kekudusan hidup, berdoa dan beribadah, cinta kasih & ketaatan, dan dalam Firman dan Roh-Nya dengan rahmat yang benar. Amin.
 
(Matius 7:21-23)  "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
 
(2Kor 12:9a) "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, ........." 
 
(2Kor 6:17-18)  "Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa."
 
(2Kor 7:1)  "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah."
 
(Sumber: https://www.facebook.com/notes/mira-agustina/mimpiku-tentang-neraka-2-okt-2012-chris-fullagar/493834187303111)

* * * * *

"Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15)
__._,_.___

PENDIDIKANKU DI TANGAN TUHAN 

Empat tahun yang lalu merupakan tahun terpenting bagi saya. Sebagai siswa kelas 3 sebuah SMU di Surakarta, saya harus menentukan ke mana saya akan melanjutkan studi selepas SMU. 

 

Saya adalah anak bungsu dari empat bersaudara, hal ini membuat saya sering bersikap manja. Oleh karena itu, sejak kelas 1 SMU saya mulai bergumul agar dapat kuliah di luar kota karena ingin belajar mandiri dan lebih bergantung kepada Tuhan. Saya sadar bahwa sangat sulit untuk kuliah di luar kota, bahkan keluarga dan teman-teman meragukan saya. Namun, saya tetap yakin dan percaya, bahwa jika Tuhan berkehendak menempatkan saya di luar kota, Dialah yang akan memelihara dan menyediakan semua keperluan saya. 

Seperti emas, kita pun perlu ditempa. Tempaan pertama adalah ketika saya akan mendaftar ujian masuk di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta di sekolah saya. Pengambilan formulir ujian dibuka dari hari Senin sampai Jumat, dengan biaya pendaftaran Rp. 150.000,00. Saya sudah meminta uang pendaftaran kepada ayah saya sejak hari Senin. Tetapi sampai hari Kamis sore, ayah belum memberi saya uang, meskipun ayah tidak melarang saya untuk mendaftar. 

Selama 4 hari itu, saya terus memohon kepada Tuhan agar Ia mengabulkan keinginan saya untuk ikut ujian masuk di perguruan tinggi tersebut. Saya yakin, jika Tuhan merestui, Dia juga yang akan memampukan ayah saya membayar uang pendaftaran tersebut. 

Tuhan Yesus tidak pernah menutup mata dan telinga-Nya bagi permohonan anak-anak-Nya, saat kita berseru dan mengandalkan Dia. Tepat pukul 24.00 WIB, ayah saya memberi uang untuk pendaftaran. Allah kita luar biasa, Dia tidak pernah terlambat. 

Awal bulan Mei, saya mengikuti ujian nasional SMU. Sebelumnya, saya juga harus mengikut ujian masuk perguruan tinggi yang saya kehendaki. Pada hari pertama, sebelum berangkat, saya membaca Alkitab dan merenungkan firman Tuhan. Dalam Yosua 1, Tuhan dengan jelas berkata kepada Yosua untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya berulang-ulang. Melalui perikop ini, saya diteguhkan dan dikuatkan, serta selalu mengandalkan Dia. 

Semua ujian dapat saya lalui. Saya pun dinyatakan lulus ujian di perguruan tinggi yang saya kehendaki dan diterima di Fakultas Sastra Jepang. Pada akhir Mei, saya ditemani oleh ayah saya, pergi ke Yogyakarta untuk melakukan registrasi. Satu minggu sebelumnya, saya sudah mentransfer uang sejumlah Rp 7.000.000,00 guna membayar semua biaya masuk perguruan tinggi tersebut. Pada hari itu, ketika saya mengambil blangko penerimaan mahasiswa, tertulis dalam blangko tersebut "Mahasiswa Jurusan Sastra Nusantara". Saya bingung karena dalam kartu ujian saya hanya tertulis jurusan Farmasi, Akuntansi, dan Sastra Jepang, bukan Sastra Nusantara. 

Karena kebingungan, ayah saya menganjurkan saya untuk menanyakannya. Dunia terasa runtuh.... Masa depan yang sudah saya rencanakan hancur berkeping-keping. Ternyata saya salah menulis kode, sehingga saya tercatat sebagai mahasiswa Sastra Nusantara. 

Saya menghadap kepada kepala pendidikan di universitas tersebut. Sementara saya menunggu kepala pendidikan yang sedang memeriksa dan mempertimbangkan masalah saya, saya terus memuji dan menyembah Tuhan. Belum dapat diputuskan, saya diminta untuk pulang terlebih dahulu dan menelepon keesokan harinya. 

Seluruh keluarga menghibur dan menguatkan saya. Pagi-pagi, saya pergi ke gereja untuk ikut doa pagi karena saya merasa hanya Tuhan yang dapat menghibur, menolong, dan menguatkan saya. Kira-kira pada tengah hari, saya menelepon kepala pendidikan tersebut, dan ia mengatakan "Tidak bisa pindah jurusan". Saya sedih sekali. Saya tidak mau pindah jurusan dan saya juga tidak tahu tentang jurusan Sastra Nusantara. 

Siang itu juga saya berangkat ke Yogyakarta. Hasilnya tetap sama, bahkan permintaan saya untuk meminta 50 persen uang yang telah saya bayar juga ditolak. Satu-satunya cara yang dianjurkan oleh wakil rektor bagian pendidikan adalah agar saya mencoba masuk jurusan Sastra Jepang melalui Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). 

Karena tidak ada jalan lain, saya menuruti anjuran tersebut. Saya ikut SPMB di Surakarta. Selama menunggu pengumuman penerimaan, setiap hari saya mengikuti doa pagi di gereja. Saya mengimani bahwa Tuhan melihat dan menghargai setiap kesungguhan dan jerih payah umat-Nya. Saya meminta agar Tuhan mengizinkan saya diterima lagi di universitas tersebut karena saya tahu Tuhan tidak pernah mempermalukan umat-Nya. 

Hari di mana pengumuman SPMB tiba. Pukul 04.00 WIB saya terbangun, namun saya tidak berani melihat koran yang disodorkan ayah kepada saya. Kakak sayalah yang memberitahukan bahwa nama saya tercantum dalam kolom jurusan Sastra Jepang. 

Saya menelepon ke pihak universitas dan menanyakan birokrasi pengurusannya. Bapak yang menerima telepon saya berkata, "Anda memang luar biasa, Anda memang pintar." Saya pun menjawab "Bukan saya Pak, tetapi Tuhan Yesus!" 

Untuk pemindahan jurusan saya hanya dikenai biaya Rp 50.000,00. Bukan hanya itu, melalui orang tua murid sekolah minggu tempat saya melayani, saya mendapat beasiswa untuk biaya selama kuliah. 

Melalui berbagai masalah yang menempa, saya belajar untuk bertekun dan percaya pada rencana Allah. Ia tidak pernah gagal dengan rencana-Nya; Ia akan memunculkan kita seperti emas yang murni untuk kemuliaan-Nya dan menjadi berkat bagi orang lain. 

Hal yang terindah dari semua itu adalah ibu saya mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat karena melihat mukjizat yang Tuhan lakukan dalam menata pendidikan saya. Jika Tuhan sudah membuktikan janji-Nya dan memberi mukjizat saat saya tetap teguh mengandalkan Dia, maka Ia pun dapat melakukan hal yang sama kepada saudara sekalian. 

(Diambil dari:/Judul buku: Apakah Tuhan Masih Bekerja Saat Ini?/Penulis: Eunike Susanti/Penerbit: GUPDI Jemaat Pasar Legi, Solo/Halaman: 53-56/i-kan-kisah) 

* * * * * 

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! (Mazmur 55:22)

YESUS MENYELAMATKANKU DARI SERANGAN PARA JIN
Kesaksian Yupi


Bagaimana saya mengenal Yesus 

Baiklah akan saya mulai kenapa saya boleh mengenal Yesus. Saya dilahirkan dari keluarga Islam, suku Melayu dari Kalimantan. Keluarga saya sangat taat, sejak kanak-kanak saya sudah disekolahkan di Madrasah sampai Aliyah. Malah saya juga diajarkan ilmu kebatinan, kekebalan, dan hal-hal gaib. Saya jadi sombong, karena saya bisa ke dunia lain berjumpa dengan jin-jin. 

 

Siswa kerasukan di kelas 

Satu peristiwa yang sedikit merubah pikiran saya adalah ketika banyak siswa dan siswi kesurupan saat kami sedang ikut mengaji, waktu itu saya dikelas 2. Semua guru pada panik, ketakutan. Saya yang punya ilmu coba mengatasi dengan segala mantra dan ayat Quran, tapi sia-sia, jin kawan saya tidak kunjung tiba, demikian juga Allah dan Nabi Junjungan biar saya sudah teriak-teriak, malah yang kesurupan tambah tidak karu-karuan. 

Untuk menjaga harga diri, saya pergi dan kembali ke rumah. Saya kecewa, saya baca ayat Al Quran dan mantra, jin yang paling dekat dengan saya akhirnya muncul. Saya bertanya, “kemana kalian?” Jawabnya, “Maaf kawan anda kerasukan jin non Muslim, itu butuh ilmu yg amat tinggi.” Saya diam, menahan emosi untuk tidak menyalahkan agamaku, Nabiku yang saya shalawati dan Allah yang tauhid. 

Cahaya yang terang 

Karena ilmu saya kurang, saya akhirnya berguru sampai ke negeri Arab. Setahun kemudian saya pulang, dan karena merasa kuat akhirnya saya tantang umat Kristen, Hindu, dan Kaharingan yang saya benci. Memang sebagian dari mereka ada yang takluk, namun terakhir saya harus menyerah, roh saya telah meninggalkan tubuh saya dan dalam perjalanan saya bertemu dengan sebuah cahaya yang terang, dan sesosok wajah yang amat indah dan yang berkata, “Kembalilah Nak”. 

Tiba-tiba saya terbangun, keluarga dan kerabat terkejut, ada yang berteriak, “Setannn.!!!” Ternyata saya sudah divonis mati setelah 6 hari tidak sadarkan diri. Mamaku datang memelukku, sambil berkata, “Nak…hidup, insyah Auloh...” 

Setelah tamat Aliyah saya hijrah ke Indonesia, orang tuaku menginginkan saya studi di perguruan tinggi islam. 

Tapi tanpa sepengetahuan mereka saya malah studi di sebuah universitas swasta. Saya tidak tahu mau ke jurusan mana. Malamnya saya bermimpi bertemu dengan orang yang pernah saya lihat dalam cahaya terang, dia memberikan saya stetoskop dan sebuah jarum suntik. Saya terbangun, kupikir mana mungkin dengan ijazah Aliyah yang pas-pasan. 

Ternyata bagi Yesus tidak ada yg mustahil. Selama saya di Islam saya tidak pernah merasakan hadirat Allah. Yang ada hanya mahluk jin. 

Membaca Quran terjemahan 

Hati saya mulai terbuka, apalagi setelah mendapat Quran terjemahan. Betapa saya kaget dengan ayat-ayat yang saya baca, inikah wahyu Allah yang penuh ancaman, penuh kebencian? Demikian sejarah Muhammad, tak sebanding dengan nabi-nabi sebelumnya, begitu memalukan. Kalau di negeri asalku, buku-buku ini tidaklah mungkin didapat. 

Ada kuasa dalam Nama Yesus 

Namun meskipun demikian, saya masih tetap menjalankan ibadahku sebagai seorang Muslim. Suatu malam saat saya lagi sholat, datang jin-jin dan kali ini kedatangan mereka tidaklah bersahabat, mereka mulai menampakan wajah asli yang menyeramkan. Saya dipojokan dan leher saya dicekik. Saya berteriak dengan memanggil rabi, Allah...serta mantra-mantra, tapi tidak berhasil. Pada saat kritis saya ingat untuk mengucapkan kata “YESUS…!!!” Lalu saya berkata dengan sisa-sisa suara yang lemah, “Yesus tolonglah aku...!!!” 

Sekejap ruangan jadi amat terang, jin-jin, serta setan-setan itu langsung menghilang, di depan saya berdiri seorang dengan pakaian putih dengan wajah yang sama seperti yang dulu saya lihat. 

Saya tersungkur dan berkali-kali saya memanggil Yesus, berterima kasih padaNya. Saya merasa tanganNya membelai kepalaku, dan berkata jadilah anakKu. 

Saya melangkah ke gereja 

Saya merasa suka cita yang tak pernah saya alami, begitu damai, dan dari sinilah saya mulai melangkah ke gereja. Tapi jalan ini bukanlah mulus, berbagai rintangan beban, dan teman-teman Muslim-ku sudah menjauhiku. Malah sampai memusuhi. Tapi kasih Kristus meneguhkanku, teman-teman baruku sungguhlah teman sejati, kami bagaikan saudara tanpa memandang suku dan golongan. Tak adalah istilah kafir. Semester terakhir saya bertemu seorang wanita… 

Oh Tuhan kenapa Engkau memilih seorang muslimah buat saya? Ternyata Tuhan berkehendak agar berkat kasihNya dapat saya salurkan pada orang lain. Selesai lulus, kami disatukan menjadi suami istri. Kini kami telah dikarunia 2 putra. Istri aktif di perkumpulan wanita. 

Untuk teman-teman Muslim dan Muslimah, sekarang akses ke-internnet sudah sangat mudah tak seperti tahun 80-an, untuk belajar agama islam,  Quran, dan memikirkan intinya. Ada satu oknum yang tak pernah diajarkan, diberituhukan, dikabarkan Islam... Siapakah Dia? Isa Putra Maryam. 

Salam untuk semua..... 
Yupi. 
http://kesaksian-life.blogspot.jp/2012/09/yesus-menyelamatkanku-dari-serangan.html 

* * * * *