“Gay/Lesbi Masuk Surga”, Kata Tuhan

0 Comments
Sebelumnya saya kutip dari Wikipedia arti dari Gay/Lesbi adalah istilah untuk laki-laki ataupun perempuan yang memiliki kecenderungan seksual kepada sesama pria ataupun wanita juga bisa disebut pria yang mencintai pria atau wanita yang mencintai wanita baik secara fisik, seksual, emosional atau pun secara spiritual. Mereka juga rata-rata agak memedulikan penampilan, dan sangat memperhatikan apa-apa saja yang terjadi pada pasangannya. Biasanya mereka melakukan hubungan sesama jenis melalui seks oral atau seks anal.
Tetap saya kutip lagi dari Wikipedia Kata “gay” bermula di Inggris pada abad ke-12 dari Bahasa Perancis gai. Kata ini digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari serta sangat umum ditemukan dalam pidato dan karya literatur, arti sesungguhnya dari kata ini adalah “sukacita”, “kebebasan”, “bersinar”. dan bergairah. Gay menjadi sebuah gaya hidup dimana gay mulai di terima di masyarakat barat dengan di keluarkanya izin pernikahan sejenis, walaupun di sebagian negara keberadaan mereka masih belum di akui oleh pemerintah.
Terus apa hubungannya dengan judul artikel ini?????
Oke kawan, siapa sih yang tidak mau diciptakan menjadi manusia yang sempurna? Semua pasti mau kan. Mungkin sebagian orang diciptakan tidak sempurna(cacat) secara fisik meskipun beban mental juga berat tapi setidaknya saya melihat masih lebih ringan bebannya daripada orang yang tercipta tidak sempurna(cacat) jati dirinya(gay/lesbi).
Kenapa saya berpendapat seperti itu? Jawabannya adalah karena orang yang cacat secara fisik tidak bertentangan dengan agama. Sedangkan gay/lesbi sangat bertentangan dengan agama. Coba kawan-kawan cari kitab suci mana yang membolehkan gay/lesbi(dalam artian berhubungan sesama jenis).  Ini saya kutip ayat-ayat yang melarangnya…
1. Al Qur’an (ISLAM) Surat Asy-Syu’araa’ 165. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, 166. dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.”
2. Al Kitab (Kristen/Katholik) Imamat 18:22 mencatat: Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian. Ayat ini menjadi dasar larangan bagi laki-laki untuk berhubungan kelamin sesama jenis. Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumidan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap dibumi.”
3. Pandangan dalam agama Buddha(Ref: http://artikelbuddhist.com/2011/07/homoseksual-dan-ajaran-theravada.html) Oleh karena homoseksual tidaklah secara eksolisit dibicarakan dalam khotbah Buddha, kita hanya bisa mengasumsikan bahwa masalah ini juga bisa dievaluasi dengan cara yang sama sebagaimana adanya heteroseksual. Dan sesungguhnya atas dasar inilah, homoseksual tidak secara khusus dikupas. Dalam kehidupan umat awam antara pria dan wanita, di mana ada kesepakatan bersama, dimana tidak ada perbuatan penyelewengan, di mana hubungann seksual adalah ungkapan rasa cintam hormat, kesetiaan dan kehangatan, ini semua tidaklah melanggar sila ke-3. Dan sama pula halnya apabila kedua orang tersebut berjenis kelamin sama. Tindakan seperti penyelewengan dan pengabaian perasaan pasangan kita akan menjadikan suatu perbuatan seksual tidak tepat, baik itu homoseksual aaupun heteroseksual. Semua prinsip yang kita gunakan untuk mengevaluasi hubungan heteroseksual akan kita gunakan pula untuk mengevaluasi hubungan homoseksual. Di dalam agama Buddha, bisa kita katakan bahwa buknlah ojel dari nafsu seksual seseorang yang menentukan apakah suatu hubungan seksual seseorang yang baik atau tidak, melainkan sifat dari emosi dan maksud yangmelandasinya.Walaupun demikian, Buddha kadangkala menganjurkan untuk menghinari perilaku tertentu, bukan karena hal ini salah ari sudut pandang etika melainkan akan menjadi seseorang aneh di dalam lingkungan sosial, atau karena akan mengakibatkan sanksi akibat pelanggaran hukum yang berlaku. Dalam hal-hal seperti ini, Buddha berkata bahwa menjauhkan diri dari perilaku seperti itu akan membebaskan seseorang dari kecemasan dan rasa malu yang disebabkan oleh ketidaksetujuan sosial atau ketakutan akan sanksi hukum. Homoseksualitas tentu saja akan masuk dalam kategori perbuatan ini. Dalam hal ini, seorang homoseksual haruslah memutuskan apakah ia akan mengikuti arus harapan masyarakat umum atau mencoba mengubah sikap publik.
4. Untuk Hindu saya belum menemukan referensinya tapi begitupun dengan Hindu, saya yakin sama melarang perbuatan tersebut karena tidak sesuai dengan kitab Wedha.
Oke, yang menjadi pertannyaan adalah bagaimana kalau orang itu tercipta sebagi orang yang tidak sempurna(cacat) secara jati dirinya(gay/lesbi)? Orang-orang tersebut(para gay/lesbi) beralasan karena masa lalunya yang katanya broken home, trauma dengan sang mantan atau sudah dari sononya(ditakdirkan/diciptakan) seperti itu oleh Tuhan. So, siapa yang harus di salahkan? Tuhan, orang tua, saudara, sang mantan atau kerabat atau bisa jadi diri mereka sendiri?
Stop!!! Mereka seharusnya tidak menyalahkan siapa-siapa apalagi kepada Tuhan atau pada diri mereka sendiri. Kenapa? Karena Tuhan telah menciptakan mereka dengan sebaik-baik penciptaan dan sangat sempurna walaupun mereka merasa tidak sempurna. Maka dari itu seharusnya mereka mengubah pandangan penciptaan ketidaksempurnaan mereka tersebut menjadi pandangan positif bahwa itu adalah ujian dari Tuhan. Mereka seharusnya menjadikan ujian tersebut sebagai ladang pahala bukan malah menuruti hawa nafsunya dengan mengatasnamakan HAM yang justru menjadikan ladang adzab/kekejian.
Apabila segala sesuatunya mengatasnamakan HAM, kalau boleh saya akan membuat sebuah perumpamaan. Misalkan orang yang tercipta miskin lalu mereka mencuri(hawa nafsu) dengan mengatasnamakan HAM, orang miskin tersebut mengatakan bahwa itu adalah hak mereka untuk bertahan hidup. Bukankan mencuri dapat menjadikan ladang adzab/kekejian. Apabila mereka bekerja/berusaha keras, sabar, terus berdoa bukankah itu akan menjadi ladang pahala dan dapat mengangkat derajatnya?
Maka dari itu mereka yang tercipta sebagai gay/lesbi harus berusaha keras, sabar dan berdoa untuk melawan hawa nafsu tersebut.
Dan ini saya buatkan sebuah perumpamaan percakapan antara Tuhan dan hamba-Nya yang Gay/Lesbi. “Tuhan, mengapa Engkau ciptakan hamba seperti ini(Gay/Lesbi). Padahal Engkau telah melarangnya karena itu adalah termasuk perbuatan yang melampaui batas dan keji? Seandainya boleh memilih, hamba juga ingin tercipta sebagai laki-laki/perempuan yang normal. Tuhan, kenapa engkau timpakan ujian ini terhadapku, aku tidak kuat dalam menghadapinya.” Keluh si hamba Gay/Lesbi.
Tuhan menjawab dengan kasih sayangnya,”Wahai hambaku, Aku hanya ingin mengetahui keimananmu dan kecintaanmu pada-Ku. Aku mengujimu dengan kesenangan dan kesusahan, ketaatan dan kemaksiatan, serta hidayah dan kesesatan. Maka dari itu berusahalah menunjukkan cinta kepada-Ku, bersabarlah menerima ujianku, dan berdoalah kepada-Ku”.
Tuhan menambahkan,”Kau tahu hamba-Ku? Semakin besar ujian yang Kuberikan padamu, maka lebih besar lagi cinta-Ku padamu. Asal kamu sabar dan terus berdoa kepada-Ku”.
Maka bisa dipetik kesimpulan dari perumpamaan percakapan tersebut, bahwa ujian besar=cinta Tuhan=Surga.
Lantas bagaimana kita yang mungkin mempunyai anak atau saudara atau teman atau pasangan yang gay/lesbi. Mari kita dekati mereka, katakan pada mereka “Aku Mencintai Kalian”. Tuntun mereka kepada jalan yang benar, jangan katakan kepada mereka “itu(gay/lesbi) adalah hak asasi manusia” yang justru menyebabkan mereka berada dalam lembah kekejian. Sehingga mereka menempuh jalan kemaksiatan. Bisa jadi kata-kata kita yang tentang HAM seperti itu juga menyeret kita kedalam adzab ataupun siksaan-Nya karena membiarkan mereka masuk dalam lembah kesesatan. Katakan kepada mereka bahwa itu adalah ujian, sebuah ladang pahala mereka untuk meraih cinta/surga Tuhan.


You may also like

Tidak ada komentar: