Sungguh tidak mudah menjadi waria, lebih-lebih ketika beridentitas
muslim. Lihatlah bagaimana masyarakat memandang waria. Pun, hal ini
seolah diamini oleh agama. Para agamawan bahu membahu melengserkan
identitas gender yang satu ini. Tidak kurang dari perkumpulan pesantren
sejawa timur ikut serta mengharamkan kehadirannya. Salon, tempat mereka
mengais rejeki diharamkan. Di jalan raya, tempat waria mengamen, mereka
tidak jarang hanya mendapat kepalan tinju dari aparat karena dianggap
mengganggu laju lalu lintas.
Sebenarnya, sebagian orang tua mereka juga tidak menghendaki
kehadiran waria. Novi misalnya, oleh keluarganya diminta, untuk tidak
mengatakan dipaksa, agar meninggalkan rumah. Begitu juga Nur Kaela, ia
pergi mengendarai sepeda motor dari lombok menuju Jogja. Untunglah
sesampainya di jogja, ada pesantren waria yang bisa menampungnya. Hasrat
mencari ilmunya pun tersalurkan.
Pesantren waria adalah satu-satunya pesantren yang membina waria.
Sebenarnya bukan hanya waria, tapi juga gay, lesbi dan PSK. Di sana
mereka dibina untuk mengenal agamanya dan kemudian beribadah. Dalam
pembinaan keagamaan ini, ada dua periode. Pertama, pesantren ini sesuai
dengan pemberitaan di koran “Kedaulatan Rakyat” bertujuan untuk
melelakikan waria. Waria pun berontak dan hampir membuat pesantren ini
bubar. Hening sesaat tanpa aktivitas. Pengasuh pun terganti.
Kedua, hanya berupa pembinaan keagamaan tanpa berupaya menggiring
waria menjadi lelaki. Bahkan pembelaan terhadap waria, pada periode ini,
khususnya yang berhubungan dengan teks keagamaan mulai disorot.
Teks-teks yang anti waria ditelanjangi untuk kemudian menyelundupkan
waria ke dalamnya. Hal ini, tidak hanya memberi ruang bagi kehadiran
waria tapi juga mendorong semangat baru untuk berani eksis setelah
mentalnya ditimpa pelecehan dan diskriminasi. Hasilnya pun tampak. Waria
makin bersemangat dalam beribadah dan mengikuti kajian-kajian
keagamaan.
Dalam praktek peribadatan shalat, pakaian waria terbagi dua;
bermukena dan berpeci. Pakaian ini sangat bergantung dengan “rasa
nyaman” seorang waria. Jika merasa nyaman memakai mukena maka dia
memakainya. Begitu juga sebaliknya. Sementara dalam shafnya, yang
memakai mukena berada di belakang yang memakai peci. Jika shafnya penuh
maka yang berpeci dan bermukena nyampur jadi satu.
Untuk menambah amal ibadah, waria biasanya tidak hanya melaksanakan
ibadah wajib saja. Di antara mereka ada yang rajin beribadah sunnah
seperti shalat tahajud, shalat dhuha, dan bakti sosial. Bagi mereka,
ibadah itu penting walaupun dianggap tidak sah oleh masyarakat umum.
Bahkan ibadah-ibadah yang mereka lakukan hingga saat ini, baik yang
sunnag maupun yang wajib, merasa diterima oleh Allah. Hal ini berangkat
dari sebuah keyakinan mereka yang doa-doanya dikabulkan.
Waria memang sadar bahwa kehidupannya tidak menentu dan seolah tidak
konsisten. Shalat tidak pernah ditinggalkan, pelacuran pun masih tetap
berjalan. Antara shalat dan pelacuran merupakan dua kebutuhan yang
esensial bagi waria. Shalat adalah tempat bercengkrama dengan Tuhan
secara individual dan pelacuran adalah tempat bersosialisasi dan mencari
sesuap nasi. Namun dalam konteks pelacuran ini, tidak semua waria
melacurkan diri. Ada juga waria yang hanya melakukan hubungan seksual
hanya dengan pasangannya semata yang dilandasi dengan cinta. Bagi waria
yang seperti ini, seks yang bertujuan mencari harta adalah dosa.
Sebaliknya seks yang dilakukan atas dasar cinta merupakan seks suci yang
tidak berdosa.
Perbedaan pandangan tentang pelacuran ini tidak mengakibatkan
keretakan dalam relasi sosial kewariaan. Tidak ada cibiran dan hinaan
antar mereka. Menurutnya, pandangan tentang seks setiap orang tidak
harus sama. Menghormati antar pandangan itu merupakan jalan terbaik
dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Bahkan saling menguatkan
antara satu dengan yang lain tanpa harus memaksakan pendapatnya sendiri.
Karena setiap waria memiliki perjalanan panjang dalam pemaknaan
dirinya.
Pemaknaan diri yang dimaksud berupa kesiapan-kesiapan menampilkan
diri di hadapan publik sesuai dengan jiwanya atau justru bersembunyi
dibalik simbol aksesoris. Lihat saja misalnya, tidak semua wari memakai
baju perempuan walau mereka merasa dan meyakini dirinya sebagai wanita.
Maka pakaiannya pun berbeda. Bagi mereka kewariaan tidak ditentukan oleh
baju dan aksesoris yang menempel melainkan oleh jiwa.
Sekalipun waria merasa dirinya sebagai perempuan, sebagian waria
tidak ingin melakukan operasi kelamin. Alasannya jelas, karena agama
melarang mengganti apa yang telah diberikan Tuhan kepada manusia. Tubuh
adalah pemberian Tuhan yang tidak boleh diubah dan diganti kecuali
darurat. Bahkan sebagian waria yang lain menyebutkan, menolak kewariaan
adalah dosa besar karena menghianati pemberian Tuhan tersebut. Pendapat
waria ini didasarkan bahwa waria adalah takdir Tuhan.
Terakhir, apapun itu, pendapat waria tentang agama merupakan ijtihad
kontemplatif yang dilakukan tidak di sebentar waktu. Perjalanan hidupnya
beserta hinaan dan cacian serta kebutuhannya akan Tuhan merupakan buku
ajar yang tidak pernah tuntas ditekuni dibaca. Pendapat itu mandiri
sebeda apapun dengan pandangan kebanyakan. Menggugurkan pendapat waria
tersebut sama dengan menyeret waria pada perjalanan hidupnya dari awal
untuk memunguti kembali setiap bulir perasan perasaan dan pikirnya.
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.