Topik
mengenai homoseksualitas saat ini sedang menjadi isu hangat bukan hanya
di Indonesia saja namun di seluruh dunia. Di dalam negeri, sudah
semakin banyak gay dan lesbian yang ‘come from the closet' dan
secara terang-terangan menyebutkan identitas diri mereka. Stigma
masyarakat yang menganggap perilaku ini sebagai ketidaknormalan sedikit
demi sedikit mulai terkikis.
Di
Amerika, kalangan Kristen seperti kebakaran jenggot menghadapi
kenyataan bahwa masyarakat yang didukung oleh media massa dan kekuatan
politik semakin serius memperjuangkan hak-hak kaum homoseks seperti
pernikahan sejenis, adopsi anak dan haklainnya yang juga diterima oleh pasangan berbeda jenis.
Kalangan
Kristen konservatif mengkhawatirkan jika Amerika yang selama ini
menjadi acuan dari banyak negara melegalkan pernikahan sejenis, maka
negara lain di berbagai belahan dunia juga akan mengikutinya. Ini berarti semakin tersudutnya praktek nilai-nilai konservatif Kristen.
Para pemimpin agama di Amerika juga memprediksikan jika
Undang-undang pernikahan sejenis disetujui, gereja akan dipaksa (demi
hukum) untuk melangsungkan pernikahan para gay dan lesbian; demikian
juga sekolah-sekolah akan memperkenalkan dan mengajarkan pernikahan
sesama jenis sebagai suatu pilihan yang wajar.
Mengapa kalangan homoseks kian mendapat perhatian dan kesempatan untuk memperjuangkan hak-hak mereka?
Salah satu sebab utamanya adalah stereotype
masyarakat yang selama ini memandang homoseks sebagai aib yang
memalukan. Di tanah air homoseks dan transgender adalah sasaran lelucon.
Pandangan masayarakat yang menghakimi dan penolakan mentah-mentah ini
menjadikan kaum homoseks ekslusif, membentuk kelompok sendiri, dan
setelah mendapatkan kekuatan yang cukup merenggut kembali hak-hak mereka
yang hilang selama ini.
Memenangkan
kaum homoseks tidak bisa dengan cara antipati terhadap orientasi yang
telah mereka anggap takdir atau nasib mereka. Tidak juga dengan sikap
toleransi dan penerimaan tanpa syarat karenaperilaku ini
sangat jelas bertentangan dengan Firman Tuhan. Kedua sikap yang ekstrim
ini tidak akan memberikan solusi bagi para kelompok homoseks yang pada
dasarnya juga sedang mencari jawaban dan jalan untuk berubah. Pada
kenyataannya, banyak penderita kelainan orientasi seksual yang sedang
bergumul dan butuh pertolongan.
Jika demikian, apakah sikap yang harus kita ambilsebagai orang Kristen?
Pilihan Atau Dilahirkan?
Sebelum mengambil sikap sebaiknya kita harus mengerti latar belakang dan kontroversi mengenai homoseksualitas ini.
Sejak tahun 1972,di Amerika, homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai mental disorder atau kelainan jiwa dengan dikeluarkannya dari daftar DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder).
Sejak saat itu pula para psikolog dan psikiater Amerika menjadi ‘leading force'
yang mendidik masyarakat untuk menerima homoseksualitas sebagai suatu
bagian dari variasi seksual yang normal. Usaha mereka antaralain
adalah mendidik orang tua dan guru untuk menerima anak-anak yang
memiliki orientasi homoseksual sebagai anak yang normal, mencabut license konselor/therapistyang melayani re-orientasi seksual (conversion therapy), serta memberi label kepada kelompok yang menentang homoseksualitas sebagai homophobia.
Sikap
dan pendapat mereka ini bertolak dari argumen yang mengatakan bahwa
usaha apapun yang dilakukan untuk mengubah seorang homoseks menjadi
heteroseks akan gagal. Seseorang yang telah mengikuti terapi reorientasi
kemudian gagal sangat besar kemungkinan menderita depresi, anxiety atau mental disorder lainnya.
Menurut APA (American Psychological Association), homoseksualitas adalah immutable
(tidak bisa diubah) karena orientasi seksual ini bukanlah pilihan
seseorang. Mereka percaya bahwa orientasi seksual dilahirkan. Beberapa
penelitian yang diadakan juga mendapati bahwa ada kelainan hormon dan
fungsi otak dari penderita homoseks. Tekanan sosial, gagalnya terapi
reorientasi, diskrimimasi masyarakat dipercaya menjadi penyebab para
homoseks semakin menderita serta meningkatnya angka bunuh diri di
kalangan mereka.
Di kubu lain yang tidak kalah panas adalah kelompok yang percaya bahwa homoseksualitas adalah pilihan hidup.Perubahan
orientasi seksual bukanlah suatu hal yang tidak mungkin asal ada
keinginan yang kuat dari yang bersangkutan. Pendapat ini tentunya
sebagian besar disupport oleh kalangan Kristen konservatif dan kelompok
psikolog/psikiater yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah.
Argumen
mereka juga berdasarkan penelitian yang menghubungkan adanya pengaruh
faktor lingkungan terhadap penyimpangan perilaku seksual. Misalnya,
hubungan antara ibu-dan anak perempuan yang tidak harmonis (bagi
homoseks wanita) dan absennya figur ayah (bagi homoseks pria).
Ketidakmampuan seorang anak laki-laki beradaptasi dengan anak kelompok
bermainnya (yang sejenis) juga bisa menjadi faktor penyebab.
Dapat
dikatakan bahwa penderita homoseks kemungkinan besar adalah anak-anak
yang tidak dekat dengan ayahnya, mereka yang berulang kali mengalami
penolakan atau mereka yang memiliki figur ayah yang ‘kejam'.
Faktor penyebab lainnya adalah semakin gencarnya promosi homoseksualitas yang dipimpin oleh
media massa (tv, majalah, film) dan tokoh masyarakat, meningkatnya
jumlah aktivis gay yang secara terang-terangan memperjuangkan hak-hak
mereka, serta bertambahnya simpati dan toleransi masyarakat bagi
kelompok ini. Semua ini membantu memperkuat indentitas diri kaum
homoseks dan menutup pintu bagi mereka untuk mencari jalan keluar.
Homoseksualitas Dalam Alkitab
Ray Anderson, seorang konselor Kristen menegaskan bahwa tidak satupun kalimat yangmendukung homoseksualitas di dalam Alkitab apapun konteksnya. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru bahkan tidak pernah membedakan
antara orientasi seksual dan praktek homoseksual. Menurutnya, konsep
mengenai pengaruh psikologis dan biologis yang menjadi landasan hubungan
homoerotik adalah konsep zaman modern dan merupakan konsep yang asing
dalam Alkitab.
Meskipun
Yesus tidak pernah secara langsung menentang homoseksualitas tapi di
dalam Perjanjian Baru Rasul Paulus dengan jelas mengutuknya, "Janganlah
sesat! Orang cabul, peyembah berhala, orang berzinah, banci, orang
pemburit, akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah" ("Do
you not know that the wicked will not inherit the kingdom of God? Do
not be deceived: Neither the sexually immoral nor idolaters nor
adulterers nor male prostitutes nor homosexual offenders" will inherit
the kingdom of God.)
Homoseksualitas digolongkan bersama dosa immoral lainnya. Penyembah berhala, pezinah, banci (male prostitute) dan pemburit (homoseks) ditulis dalam analogi pararel. Kata Homoseksuality (Pemburit) dalam terjemahan bahasa Inggris lainnya disebut ‘sodomite'. Menurut Furnish, kata sodomite ini berarti intercourse dengan sesama pria.
Ide ‘male prostitute'
berasal dari bangsa penyembah berhala di sekeliling Israel. Secara
konstan bangsa Israel diperhadapkan pada sikap immoral bangsa-bangsa ini
yang menganggap homoseksualitas sebagai kreatifitas bahkan
mempekerjakan 'male prostitute' di rumah-rumah ibadah mereka.
Bagi beberapa kebudayaan, homoseks dianggap sebagai orang suci,
contohnya orang Atena, Indian Eskimo dan suku-suku di Amerika Utara
(Cole).
Sementara
itu, bagi orang Israel homoseksualitas adalah kejahatan dan dosa. Tidak
heran jika Tuhan melarang kawin campur antara orang Israel dengan
bangsa-bangsa tetangganya. Orang Yahudi menganggap homoseksualitas sama
dengan penyembahan berhala. Dalam Perjanjian Baru homoseksualitas bahkan
dipandang sebagai hawa nafsu yang memalukan dan tidak wajar. "Karena
itu, Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab
isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang
tak wajar" (Roma 1:26-27).
Pelayanan Terpadu Sebagai Solusi
Orang
Kristen bisa memilih untuk menerima keadaan homoseks apa adanya atau
menolak mereka. Namun, kedua pilihan ini tidak akan membawa solusi.
Banyak kaum homoseks yang sebenarnya terjebak dalam dunia yang tidak
diinginkannya dan butuh jalan keluar.
Sebagai
orang Kristen yang percaya pada seluruh kebenaran Alkitab, kita
menyadari bahwa awal dari masalah emosional manusia adalah terputusnya
hubungan dengan Tuhan. Dosa dan kematian adalah konsekuensi dari
kejatuhan ini. Oleh karena itu pemulihan hubungan dengan Tuhan melalui
Yesus Kristus adalah satu-satunya pintu masuk pada pemulihan emosional
secara keseluruhan.
Setiap individu pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Meskipun penelitian membuktikan adanya element ‘abuse' pada masa kanak-kanak mereka yang mempunyai orientasi homoseksual namun pengalaman masa lalu mereka pasti beragam. Ini berarti kita tidak bisa memandang homoseksulaitas hanya dari satu sudut padang.
Anderson
selanjutnya menyarankan untuk menanggapi isu homoseksualitas dalam
kerangka spektrum yang lebih luas. Orientasi homoseksualitas bisa saja
disebabkan oleh berbagai kasus, oleh karena itu solusi yang ditawarkan
hendaknya berdasarkan berbagai pertimbangan.
Pendekatan yang paling efektif seharusnya dimulai dari keluarga Kristen. Pendekatan terhadap homoseksualitas yang terpadu dapat meliputi:
a. Bagi Keluarga Kristen:
1. Pencegahan
Perlengkapi anak-anak kita dengan iman dan nilai Kristen yang kuat.
Perlengkapi
anak-anak kita dengan pandangan yang Alkitabiah mengenai
homoseksualitas sebelum TV, majalah, teman-teman dan lingkungan membantu
mendefinisikan homoseksualitas sebagai perilaku yang normal untuk
mereka.
2. Perlindungan
Lindungi anak-anak kita dari physical dan emotional abuse baik dari orang tua maupun keluarga dekat lainnya.
Lindungi anak-anak kita dari lingkungan dan pergaulan yang merusak nilai-nilai Kristen.
b. Bagi Kaum Homoseks:
1. Intervensi
Beri
intervensi bagi anak-anak dan orang dewasa yang menunjukkan orientasi
homosekual dengan penuh pengertian dan penerimaan (tidak dengan sikap
menghakimi).
2. Koreksi
Berikaan
koreksi jika terlanjur ada anggapan yang salah mengenai homoseksualitas
sebagai perilaku yang tidak bisa diubah, kenyataannya homoseksualitas
bukan sesuatu hal permanen dan banyak kesaksian dari mereka yang telah
terlepas darinya.
3. Reorientasi
Berikan usaha apapun itu (konseling, psikotherapy, bimbingan rohani) untuk membantu mereka berubah namun harus dilakukan dengan cara yang supportif dan unikdengan melihat setiap pribadi kasus demi kasus.
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.