….sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, (Mazmur 69: 9a).
Tuhan punya visi yang sangat besar bagi hidup kita. Itu jauh melampaui apa yang bisa kita bayangkan atau pikirkan pada saat ini. Kebanyakan orang bersukacita ketika menerima visi yang besar dari Tuhan bagi hidupnya. Namun keadaan dan kenyataan yang tidak sesuai harapan kita kerapkali melemahkan pikiran dan hati kita. Akibatnya kita kehilangan api untuk memperjuangkan visi Tuhan menjadi kenyataan. Kita menyerah dengan keterbatasan yang ada sehingga visi kita mati. Daud mengajar kita bagaimana menjadikan visi Tuhan menjadi visi kita dan bagaimana memelihara visi itu. Daud cinta akan rumah Tuhan. Dia diberi visi untuk membangun rumah bagi Tuhan. Untuk mengobarkan api cintanya kepada rumah Tuhan, Daud melakukan sesuatu yang istimewa dibandingkan kebanyakan raja yang lain. Ia mempersembahkan persembahan yang luarbiasa banyaknya dan besarnya untuk pembangunan rumah Tuhan. Semakin banyak yang Daud persembahkan, semakin berkobar-kobar hatinya untuk visi Tuhan. Visi itu semakin menjadi bagian hidupnya. Karena Alkitab berkata: Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. Itu sebabnya persembahkan sebanyak mungkin waktu, tenaga, pikiran, perasaan, materi bahkan segala yang anda miliki untuk visi yang Tuhan taruh dalam hidup anda. Semakin banyak yang anda persembahkan, semakin hati anda akan terbakar oleh visi Tuhan. Sebaliknya semakin sedikit yang anda persembahkan bagi visi Tuhan, semakin anda akan kehilangan visi itu. Persembahkan hidup anda sepenuhnya bagi visi yang Tuhan berikan, maka anda akan melihat perkara-perkara yang besar dan dahsyat Tuhan kerjakan dalam hidup saudara.
Hadiah Nobel untuk perdamaian pada tahun 1935 telah diberikan kepada orang yang bernama Albert Schweitzer.Ia adalah seorang Jerman, seorang ahli filsafat, theolog, musikus, guru Injil, dokter dan humanis.Albert Schweitzer dilahirkan pada tahun 1875 sebagai putra seorang pendeta. Selama studinya di sekolah dasar dan sekolah menengah, ia selalu termasuk dalam kategori murid yang terbaik. Ia mempunyai kesukaan terhadap mata pelajaran musik dan sejarah. Seusai sekolah menengah, ia kemudian belajar filsafat dan theologia di universitas Strasbourg dan disinilah kepandaianya mulai menonjol dengan jelas, sehingga dengan gilang-gemilang ia menyelesaikan studinya dengan menggondol gelar Doktor dalam ilmu fisafat dan theologia. Kemudian ia bekerja untuk sementara sebagai pendeta di Strasbourg dan tak lama kemudian ia diangkat menjadi guru besar di Universitas Strasbourg di usianya yang masih 27 tahun. Sementara itu namanya sebagai ahli musik jauh melebihi kariernya dalam bidang agama dan filsafat. Keahliannya di bidang music ini membawa kemasyhuran yang luar biasa bagi dirinya, sehingga sering kali ia berkeliling ke berbagai tempat untuk mengadakan konser-konser dan juga ceramah-ceramah tentang musik. Apakah lagi yang diinginkan oleh seorang yang masih muda tetapi telah mencapai puncak kemasyhurannya? Pada suatu hari Schweitzer membaca sebuah iklan dalam majalah pekabaran Injil yang meminta perhatian akan buruknya kondisi kesehatan masyarakat di suatu daerah terpencil di Afrika, di mana beribu-ribu orang mati sebagai korban penyakit tropis seperti malaria, dan sebagainya. Kekurangan tenaga dokter dan jururawat sangat dirasakan di daerah itu. Saat itulah Schweitzer merasa mendapat visi dan panggilan dari Tuhan untuk terjun membantu masyarakat Afrika yang membutuhkan. Ia mengambil keputusan yang tegas untuk menyumbangkan tenaga dan hidupnya bagi masyarakat Afrika yang menderita itu.Waktu itu Schweitzer berada dalam puncak kemasyhurannya.Usianya baru mencapai 31 tahun. Yang dibutuhkan ialah tenaga dokter, sedangkan ia adalah musikus, ahli fisafat dan theolog. Jadi bukankah tidak cocok? Tapi ini semua bukan alasan bagi Schweitzer! Ia meninggalkan semua gelar serta profesinya dan pada usia 31 tahun ia kembali masuk di bangku kuliah yaitu di fakultas kedokteran! Teman-temannya semua mengejek dan menganggap ia sangat bodoh, tetapi apa jawab Schweitzer? Ia berkata, “Guruku Yesus itulah yang memerintahkan kepadaku.” Demikianlah Schweitzer menjadi seorang dokter di rimba raya Afrika, di situlah ia bergumul dengan masyarakat yang menderita berbagai macam penyakit dan masalah-masalah yang lain. Tangannya yang halus karena biasa main piano, kini harus bekerja kasar untuk membangun rumahnya, kandang ayam dan segalanya. Semua itu dilaksanakan bukan dengan menggerutu, tetapi dengan hati yang penuh sukacita. Dan ia juga tidak hanya di Afrika setahun dua tahun saja, melainkan berpuluh-puluh tahun dihabiskannya umurnya di situ dengan pengabdian kepada masyarakat disana. Bukankah patut ia menerima hadiah Nobel itu? Kepuasan batin Schweitzer ialah dalam hal mentaati sepenuhnya panggilan sang Guru, itulah yang menjadi visi dalam hidupnya yang ia perjuangkan dengan mengorbankan semua yang ia pernah nikmati .
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.