TULUS

0 Comments

Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya(Mazmur 11:7)
 
Ketulusan, tidak bisa tidak, harus dilahirkan dari hati yang suci. Tanpa hati yang suci, tidak mungkin ada ketulusan. Bagaimana kita sebagai manusia yang penuh dosa bisa memiliki hati yang suci? Tentu saja kita sendiri tidak bisa! Hanya ketika kita mengijinkan Roh Kudus yang menyucikan hati kita, maka barulah kita bisa memiliki hati yang suci. Saat Roh Kudus menyucikan hati kita, maka terang itu akan muncul dalam hati kita dan menyirnakan semua kegelapan yang masih ada. Ketulusan hati kita pasti akan terpancar keluar, demikian juga ketika kita tidak tulus, ketidaktulusan itu akhirnya juga akan memancar keluar. Ini yang perlu kita miliki: HATI MELAYANI YANG TULUS! Tanpa hati melayani yang tulus, maka pelayanan kita hanya bisa dipermukaan saja. Hanya dengan hati melayani yang tuluslah, pelayanan kita bisa benar-benar menyentuh hati, sehingga orang-orang yang kita layani merasa diberkati melalui pelayanan kita.
Ada seorang tukang cuci yang mengasihi Tuhan dan ia bekerja di sebuah rumah tangga yang berkecukupan. Setiap hari ia datang untuk mencuci dan menyeterika baju seluruh keluarga disitu. Dalam pekerjaannya sehari-hari itu, ia mendapatkan bahwa ternyata rumah tangga majikannya itu sedang bermasalah, tidak ada keharmonisan dalam hubungan suami isteri, bahkan antara orang tua dengan anak-anaknya. Suatu hari ketika majikannya suami-isteri bertengkar dengan hebat,  dan majikan perempuannya menangis di dapur, pembantu ini memberanikan diri untuk membuka pembicaraan. “Ibu, maaf, kalau boleh, saya ingin mendoakan Ibu, ada Tuhan Yesus yang bisa menolong Ibu.” Awalnya sang majikan merasa enggan didoakan oleh pembantunya. Ia berpikir jangan-jangan pembantunya ini ada maunya. Namun, semakin hari ia melihat keseharian hidup pembantunya yang penuh sukacita, kegigihan dan mengerjakan segala sesuatu dengan sangat baik, majikannya mulai terbuka hatinya untuk lebih dekat dengan pembantunya, sampai suatu hari ia mau didoakan. Sejak hari itu, pembantu dan majikan ini selalu berdoa bersama. Bahkan suatu hari pembantunya itu membawa bingkisan untuk majikannya, “Bingkisan apa ini?” tanya majikannya. “Saya belikan Ibu Alkitab bu… Ibu baca tiap hari ya bu… Banyak jawaban dari Tuhan yang bisa kita dapatkan dari situ bu…” Majikannya terkejut, “Lho, kamu dapat uang dari mana beli Alkitab ini?” “Saya tabung sedikit-sedikit dari uang yang Ibu beri, saya ingin Ibu mendapatkan jawaban melalui Alkitab ini bu…” Majikannya terharu akan ketulusan hati pembantunya ini. Sejak hari itu, majikannya membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Suaminya mulai melihat banyak perubahan dalam diri istrinya, dan dari situlah, sedikit demi sedikit keadaan keluarga itu mulai dipulihkan. Hingga akhirnya, suaminya pun dijamah Tuhan dan mereka sekeluarga mengambil keputusan untuk baptis di gereja. Semuanya diawali dari ketulusan hati yang dimiliki oleh sang pembantu yang, dengan tulus, rindu keluarga majikannya dipulihkan.


You may also like

Tidak ada komentar: