Menerima Mahkota Surga

0 Comments

Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. 3 Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. 4 Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. (1 Petrus 5:2-4)
 
Banyak orang berjuang mati-matian untuk mendapatkan harta dunia. Mereka bekerja tak kenal lelah demi untuk memperoleh banyak keuntungan dan uang untuk menikmati hidup yang mewah dan nyaman. Para pemilik perusahaan bekerja keras memutar otak untuk memikirkan strategi-strategi bagaimana mengembangkan perusahaannya. Bagian pemasaran dan marketing bekerja keras bagaimana pemasarannya bisa menghasilkan keuntungan dan bonus sebanyak mungkin. Karyawan bekerja keras mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinannya untuk mendapatkan kenaikan gaji sebanyak mungkin. Dan masih banyak lagi. Semuanya bekerja keras demi untuk memperoleh harta di dunia yang bisa langsung kelihatan dan nyata dinikmati. Namun, berapa banyak orang yang bekerja keras demi untuk memperoleh mahkota sorgawi di alam kekekalan, sesuatu yang belum bisa langsung dinikmati selama kita hidup di dunia ini?
 
Orang dunia berkata: “Bekerjalah dengan keras untuk mendapatkan harta untuk dinikmati dan untuk diwariskan kepada anak-anak dan cucu.”Tetapi Yesus berkata:  Jangan kamu mengumpulkan harta di bumikumpulkanlah bagimu harta di sorga. ”Kita tidak boleh menganggap harta di bumi sebagai hal yang terpenting, kelimpahan dalam harta duniawi sebagai tujuan hidup kita, mengandalkan harta duniawi untuk masa depan kita, dan tidak berpuas diri dengan harta benda duniawi. Harta duniawi tidak bersifat kekal, tidak bisa kita bawa ke sorga dan harta duniawi tidak pernah membawa kepada kepuasan. Harta di sorga merupakan satu-satunya harta yang sejati yang tidak akan hilang oleh apapun karena Allah sendiri yang menjaganya dan yang kita nikmati selama-lamanya.
 
Seorang misionaris pulang ke kampung halamannya setelah puluhan tahun melayani pekerjaan Tuhan di pedalaman Benua Hitam –Afrika…Ketika kapal yang ditumpanginya mulai merapat ke pelabuhan, misionaris tua itu melihat ada begitu banyak orang yang berdiri di pinggir pelabuhan, menunggu kedatangan kapal itu. Orang-orang dengan pakaian yang bagus dan rapi, mereka bersorak-sorak dan melambai-lambaikan tangan atau sapu tangan mereka. Ada juga sekelompok pemain musik yang turut meramaikan suasana petang itu. Dentuman drum dan lengkingan bunyi terompet, bahkan nyala kembang api di langit sore itu. Sungguh suatu sambutan yang meriah. “Terima kasih Bapa, buat sambutan yang luar biasa…”Dia bersyukur. Ada kekecewaan yang dalam di hati misionaris tua itu, ketika menyadari bahwa sambutan yang meriah itu ternyata bukan untuk dirinya…Di kapal yang sama ternyata turut ditumpangi Presiden Amerika Serikat beserta rombongannya, yang baru saja pulang berburu dari Afrika. Dan kepulangan rombongan inilah yang disambut dengan meriah oleh kumpulan orang banyak itu. Misionaris tua itu dijemput oleh dua orang wakil dari gereja yang mengutusnya. Di dalam mobil dinas gereja sederhana yang mereka tumpangi, misionaris tua itu duduk diam…

Dalam hatinya dia ingin menyampaikan ketidak puasannya kepada Tuhan. Setelah seumur hidupnya mengabdikan diri dalam pelayanan, kedinginan, kelaparan, dan beberapa kali hampir mati. Kepulangannya hampir-hampir tidak dihargai oleh seorangpun. Sementara rombongan Presiden yang pulang setelah berburu dan bersafari, disambut bak pahlawan besar. Tapi misionaris itu kemudian tersenyum, tetesan air mata mengalir di wajah tuanya, ketika Roh Kudus berbisik lembut, “Anak-Ku, engkau belum pulang…engkau pulang ketika engkau sudah menghadap tahkta-Ku di sorga…para malaikat akan menyambutmu dan mengenakan mahkota kepadamu…”


You may also like

Tidak ada komentar: