Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (1 Korintus 3: 6).
Pernahkah anda melihat pertunjukan orang-orang kerdil yang melakukan atraksi di pasar malam atau di sirkus? Aksi mereka mengundang kita untuk tertawa. Akan tetapi akan berbeda kalau anda mempunyai anak yang kerdil. Setiap hari usianya bertambah, namun ia tidak bertumbuh menjadi lebih besar dan lebih tinggi. Saya percaya pasti hati kita sebagai orangtua akan sedih sekali. Inilah yang Tuhan kita rasakan ketika kita anak-anak-Nya tidak bertumbuh dewasa secara rohani. Saya percaya setiap kita juga ingin bertumbuh di dalam roh. Namun bagaimana caranya? Rasul Paulus memberi kita kuncinya: Tuhan yang memberi pertumbuhan, tetapi harus ada yang menanam dan juga menyiram. Yang menanam dan menyiram bukanlah Tuhan, namun orang yang Tuhan percayakan untuk memelihara kita. Merekalah orang tua rohani kita; yaitu Pemimpin Kelompok Sel. Seorang bayi tidak akan bisa bertumbuh dewasa tanpa orangtua yang memeliharanya. Demikian juga kita tidak pernah menjadi dewasa rohani tanpa Pemimpin Kelompok Sel yang menanam dan menyiram. Itu sebabnya pastikan diri anda tergabung di dalam keluarga rohani; yaitu kelompok sel sehingga anda akan lebih tertanam kuat, disirami dengan nasehat Firman Tuhan, mengalami pertumbuhan dalam Tuhan dan akhirnya berbuah lebat dan menyenangkan hati Tuhan.
Berikut adalah kesaksian dari salah satu jemaat yang latar belakangnya berprofesi sebagai pemulung. Ia berasal dari keluarga non Kristen, dan sejak umur 12 tahun ia sudah meninggalkan rumah serta keluarganya dan hidup menggelandang. Keadaannya waktu itu seperti debu yang diterpa angin, pekerjaannya sehari-hari adalah mencari sesuap nasi di tempat-tempat sampah dan mengandalkan sampah-sampah yang dibuang. Jangankan sebuah harapan, tujuan hidup pun tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Bagaimana ia bisa mikirkan tujuan hidup, sedangkan untuk mencari sesuap nasi saja pagi-pagi buta ia sudah harus berjalan menyusuri tempat-tempat sampah dan sepanjang rel kereta api. Biasanya baru setelah jam 12 siang ia mendapatkan nasi, dan sisa waktunya ia pergunakan untuk beristirahat. Suatu hari ketika ia melintas di depan Gereja Keluarga Allah, ia melihat salib yang terpampang, saat itulah ia merasakan ada sesuatu yang lain dalam perasaannya, ia merasa damai dan timbul pengharapan dalam hatinya. Apalagi saat ia menyaksikan orang-orang yang keluar dari Gereja Keluarga setelah selesai kebaktian, wajah-wajah mereka memancarkan damai dan sukacita yang selama ini belum pernah ia rasakan. Namun, dalam hati kecilnya ia merasa bahwa ia hanyalah seorang pemulung, baju cuma satu di badan. Namun Tuhan mengetahui apa yang ia rasakan dan pikirkan. Dengan tangan kanan-Nya Tuhan membimbing dan menuntunnya ke arah dan jalan yang baik. Puji nama Tuhan, akhirnya singkat cerita ia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya secara pribadi, meskipun bukan di Gereja Keluarga Allah tetapi di gereja lain, disitu juga ia menerima baptisan air. Kurang lebih setelah satu tahun ia menerima Tuhan Yesus dan beribadah dengan baik, ia justru merasakan kerohaniannya kering, bukannya menyala-nyala dan bersemangat tetapi imannya justru makin layu dan makin layu. Ia sendiri merasa heran, mengapa ia sampai mengalami kekeringan rohani seperti ini? Saat itu ia merasakan bahwa ia hanya sekedar menjadi pendengar Firman Tuhan saja, tidak mengerti apa yang harus dilakukannya dengan Firman Tuhan tersebut dan bagaimana cara mempraktekkanya secara nyata dalam hidupnya. Hingga suatu hari, Tuhan pertemukan dia dengan salah satu PKS Keluarga Allah, disitu ia banyak menerima bimbingan dan arahan dari PKS tersebut dan akhirnya ia bergabung dalam kelompok sel dan memutuskan untuk berjemaat di Keluarga Allah. Dari situ ia mulai mengerti lebih banyak tentang bagaimana menjadi pelaku Firman. Imannya mulai dibangkitkan lagi, rohnya mulai dinyalakan lagi, kehausan dan kerinduannya akan Tuhan mulai dibangkitkan lagi. Ia memutuskan untuk mengikuti Sekolah Orientasi Melayani (SOM), dan setelah lulus dari SOM ia mulai melangkah membuka kelompok sel! Di awal ia membuka kelompok sel, Tuhan anugerahkan dengan jiwa-jiwa sebanyak 10 orang. Mulanya ia merasa minder dalam pelayanan karena ia hanya seorang pemulung, sedangkan anggota kelompok selnya adalah orang-orang yang kondisinya jauh lebih mapan daripada dirinya. Tetapi rhema Firman Tuhan yang senantiasa menguatkannya adalah dari Keluaran 4:12“Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” Ia sangat bersyukur bisa mengalami pertumbuhan rohani yang cepat semenjak ia bergabung dalam kelompok sel dan melangkah menjadi PKS. Hidupnya sungguh-sungguh diubahkan Tuhan, from nothing to something!
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.