Tetap tersenyum? Bersukacita? Iya, saya akan melakukannya. Seandainya saya jadi orang kaya. Seandainya saya memiliki mobil jaguar. Seandainya saya berumah mewah. Seandainya saya punya lebih banyak uang. Seandainya saya terkenal. Seandainya saya cantik dan jadi pusat perhatian. Seandainya saya memiliki bakat hebat. Seandainya saya memiliki pekerjaan yang memuaskan. Seandainya saya memiliki pasangan hidup. Seandainya saya memiliki buah hati. Seandainya …, Seandainya, dan seandainya …
Benarkah untuk tersenyum dan bersukacita kita harus memiliki semuanya itu? Benarkah uang, kecantikan, kemewahan, popularitas dan semua impian kita memberikan garansi bahwa kita akan bersukacita jika memilikinya? Sejujurnya, saya menentang keras angan-angan itu.
Begitu banyak bukti menunjukkan bahwa orang kaya atau bahkan yang super kaya ternyata lebih sulit tersenyum dari pada mereka yang memiliki kehidupan sederhana. Orang yang punya kecantikan juga tak serta merta selalu tersenyum. Sesudah menjadi terkenal, justru banyak orang semakin susah untuk tertawa. Bahkan ekstremnya, sekalipun kita memiliki seisi dunia ini, itu tidak menjamin kita bisa tertawa dan bersukacita.
Alasannya sederhana. Karena sukacita tidak ditentukan oleh keadaan di luar kita. Sukacita lahir dari dalam. Itu sebabnya seorang sederhana bisa lebih banyak tertawa daripada si kaya raya. Atau si wajah biasa terlihat menarik karena senyum yang selalu menyertai, dibandingkan dengan si cantik yang terlihat judes. Tak perlu heran, kalau seorang kuli sederhana terlihat lebih berbahagia daripada bosnya. Sukacita memang seperti itu. Tidak bisa dibeli dengan uang, kedudukan, penampilan fisik dan apapun juga di dunia ini.
Saya belum menjadi penulis terkenal. Belum juga menjadi kaya. Tidak juga memiliki penampilan fisik ala model. Soal bakat, saya masih kalah jauh dibanding dengan yang lain. Sebaliknya, saya terkadang dihadapkan masalah. Duit saya kadangkala menipis hampir habis. Kesulitan terjadi. Tantangan datang. Meski demikian, saya punya komitmen untuk berani tertawa dan bersukacita. Masa hanya untuk tertawa nunggu jadi kaya, terlalu lama dong. Kalau ingin tertawa, ya tertawa saja. Sekarang juga boleh kok ... (Kwik/RenunganHarianSpirit)
* * * * *
Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. (Mazmur 126:3)
Morbi leo risus, porta ac consectetur ac, vestibulum at eros. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus.