Kesaksian

0 Comments

KESAKSIAN RAHEL NAPSI (1)
KISAH PERTOBATAN


Tahun 1987, saat aku berusia 16 tahun, itulah saatnya pertama kali aku mengenal cinta dan merasakan apa yang dikatakan orang bahwa ‘cinta itu buta’.  Aku mencintai seorang pria yang sudah beristri dan menjalin hubungan dengan pria ini sampai 8 tahun lamanya.  Istri kekasihku ini tahu bahwa suaminya berpacaran denganku, tetapi anehnya sang istri ini tidak pernah berlaku kasar, bersikap memusuhi atau menunjukkan cemburunya kepadaku, melainkan dia bersikap sangat baik, lembut dan sopan kepadaku, padahal sudah jelas sekali bahwa dia mengetahui hubunganku dengan suaminya dan bahwa aku ingin sekali merebut suaminya dari sisi sang istri.  Malahan, setiap kali aku melihat kekasihku bersama dengan istrinya, aku merasa sangat cemburu dan marah, tetapi semua perasaan itu hanya bisa kupendam di dalam hati.  Akhirnya, karena memendam semua kecemburuan dan kemarahan ini, aku menjadi sering sakit-sakitan, uang hasil kerjaku habis untuk berobat.   

 

Sesungguhnya aku ingin sekali lepas dari kekasihku ini, sudah kucoba berkali-kali untuk melepaskan diri darinya dengan cara menghidar dari pertemuan dengannya dan memperbanyak kegiatan rohani ‘ala kepercayaan lama’ku, namun tidak berhasil. Malahan semakin aku berusaha menghindar, rasa cinta dan kangen itu semakin besar.  Ibaratnya seperti terjatuh masuk ke dalam kubangan lumpur hidup, semakin aku bergerak, semakin dalam aku terpelosok ke dalam lumpur itu, demikian juga akhirnya aku makin tenggelam dalam perasaan tidak menentu ini. Saat ini aku mengerti bahwa itulah kuasa dosa, sekali kita terpelosok di dalamnya, dosa itu akan menarik kita jatuh semakin dalam.  Itulah yang kualami. Akhirnya aku frustasi, merasa putus asa, merasa hidupku tidak memiliki arti lagi, apalagi sewaktu rasa cemburu berkobar di hatiku aku merasa ingin mati saja, aku terpuruk dalam rasa depresi yang mendalam dan akhirnya mulai menyadari bahwa agamaku tidak bisa menolongku, aku butuh pertolongan dari kuasa lain. 

Hingga pada suatu saat, bersama anak majikan yang kurawat aku pergi ke gereja dan aku mulai mendengar nama Yesus, khususnya melalui satu pujian dari Pdt. Ir. Niko waktu itu, “Sudahkah kau miliki damai di hatimu, sudahkah kau miliki sukacita di hidupmu.  Hanya Yesus yang sanggup memberikan semua itu, jadikanlah Dia raja di hidupmu.”   Lagu ini terus terngiang-ngiang dalam pikiranku, sampai-sampai aku menantang, “Jika benar Yesus Tuhannya orang Kristen itu hidup dan berkuasa, bawa aku keluar dari rasa cinta sama suami orang ini.  Maka aku akan mengikutiNya dan percaya kepadaNya.” 

Pada akhir tahun 1994, aku mulai merasa ada sesuatu yang berubah dalam hatiku.  Aku merasa sangat berdosa, kotor dan tidak layak.  Aku sering menangis, kesal dengan diri sendiri tapi tidak tahu harus berbuat apa.  Selama 1 bulan itu, setiap kali aku tidur (siang maupun malam) aku selalu bermimpi ada banyak orang jahat yang mau membunuhku.  Aku dikejar-kejar orang berbaju hitam lalu berlari sampai ke hutan dan dalam mimpi itu selalu ada suara yang berbisik di telingaku supaya aku memperkatakan, “Dalam Nama Yesus, musuh dikalahkan.”  Setelah aku berkata demikian, orang-orang yang mengejarku itu akhirnya lenyap.  Aku terbangun dari tidur dengan hati yang berkemenangan namun dengan tanda tanya di pikiranku mengenai siapa itu Yesus, karena yang kukenal dulu Isa Al Masih adalah seorang nabi, itu saja. 

Sejak sering bermimpi seperti itu, aku mengambil keputusan meninggalkan kota Jakarta (tempatku bekerja) untuk pulang kampung dan sungguh-sungguh mau meninggalkan kekasihku.  Sebelum aku meninggalkan Jakarta, ada seorang pria yang tidak kukenal menelponku ke tempat kerja dan menuntunku untuk berdoa menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadiku.  Sejak saat itulah aku menerima Tuhan Yesus melalui orang yang diutus oleh Tuhan sendiri mencariku melalui telpon itu.  Nama Yesus berkuasa membawaku dalam pertobatan dan kelepasan. Serta kasih yang tulus dari istri mantan kekasihku membantu aku keluar dari dosa perselingkuhan. 

Terima kasih kepada Tuhan Yesus yang telah mengijinkan pengalaman berharga ini terjadi dalam hidupku, yang membawa aku mengenal dan menerima DIA yang sanggup memberikanku kasih yang sempurna.  Segala puji, syukur dan hormat hanya bagi nama Tuhan Yesus yang berkuasa menolong siapa saja yang mau menerimaNya. 

Tuhan Yesus memberkati. 

Note :  Saat ini Sdri. Rahel Napsi melayani di GBI Hong Kong sebagai Koordinator Ibadah di Cabang Mongkok, dimana yang bersangkutan juga dipakai Tuhan melayani  sebagai pengkotbah dan guru serta telah ditahbiskan sebagai Pejabat GBI, yaitu Pdp. (Pendeta Pembantu) pada th. 2008. 


You may also like

Tidak ada komentar: